Follow me on Blogarama

main-nav-top (Do Not Edit Here!)

Pesantren (Sejarah dan Pengertian)

Pesantren merupakan tempat pembelajaran agama Islam tradisional tertua di Nusantara. Lembaga pendidikan yang di jaman sebelum Islam merupakan tempat kediaman para santri, cantrik, priesterleerlingen atau murid-murid pendeta, ini disebut juga “rangkang” (Aceh), dan “surau” (Sumatera). Orang Belanda memberi nama priesterscholen atau sekolah pendeta. Alasan utama didirikannya pesantren, di antaranya ialah untuk mentransmisikan pengetahuan dan pengalaman Islam tradisional sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab keagamaan klasik yang ditulis berabad-abad lalu. Di Indonesia dikenal dengan sebutan “Kitab Kuning”.

Memang, pesantren di Indonesia mempunyai fungsi sebagai platform penyebaran dan sosialisasi Islam. Dari segi eksistensinnya tersebut, pada setiap fase sejarah, pesantren merupakan lembaga pendidikan dan penyiaran Islam, dan ini menjadi identitas pesantren pada awal penyebaran Islam di Nusantara. Dari segi historis, pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman, tetapi juga keaslian (indigenous) Indonesia, sebab lembaga yang serupa sudah terdapat pada masa pengaruh unsur budaya Hindu-Budha. Dengan demikian, pesantren adalah pusaka bangsa Indonesia. Sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sangat efektif dan berpengaruh besar bagi proses penyebaran Islam di Indonesia umumnya, di Jawa khususnya. Para Wali Songo yang menyiarkan Islam di pulau Jawa adalah perintis terkemuka sistem pendidikan pesantren. Pesantren Sunan Giri adalah salah satu yang sangat terkemuka.

Pesantren merupakan kelanjutan dan pengembangan lembaga serupa di dunia Islam. Mula-mula cikal bakal pesantren ialah yang mula-mula dikenal sebagai zāwiyah, atau lengkapnya zāwiyat al-masjid, yakni pojok masjid berupa ruang-ruang khsusus yangg disediakan untuk ruang belajar sekaligus penginapan para penuntut ilmu (Arab; murīd). Lama kelamaan dibuatlah bangunan tersendiri dan terpisah secara fisik dari bangunan utama masjid, dan disebut ribāth, yang berarti bangunan terkait (annexed) dengan masjid.

Sayangnya, pengetahuan mengenai asal usul (sejarah) pesantren sangat sedikit. Bahkan kita tidak mengetahui kapan lembaga ini muncul untuk pertama kalinya. Banyak tempat-tempat pendidikan yang disebut-sebut sebagai pesantren pada masa awal, sebetulnya hanya merupakan ektrapolasi dari pengamatan akhir abad ke-19 M saja.

Ada anggapan, pondok pesantren telah ada sejak jaman Wali Songo (abad ke-15 dan 16 M). Pesantren merupakan jenis pusat Islam penting kedua, di samping masjid, pada periode awal abad ke-16 M. Pesantren sebagai sebuah komunitas independen yang tempatnya jauh di pegunungan, dan berasal dari lembaga sejenis jaman pra-Islam, mandala arau asyrama. Sejarawan lain, Pada abad ke 15-17 M., pondok pesantren yang terkenal terletak di bukit Giri Gresik di bawah asuhan Sunan Giri. Lembaga yang kemudian diteruskan oleh Susuhunan Prapen, yang dalam berita asing disebut “Raja Bukit”, ini pada masa-masa tersebut agaknya merupakan sarana penting dalam proses islamisasi Nusantara. Calon-calon penganjur agama (du’āt, missionarist) dipersiapkan dan mendapat penggemblengan di pesantren.

Dengan mengutip sosiolog Belanda, B. Schrieke, Tjandrasasmita selanjutnya mengatakan;
“.... pada masa pertumbuhan Islam di Jawa, kita mengenal Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang mendirikan pesantren di daerah Ampel Denta Surabaya. Sunan Giri terkenal dengan pesantrennya sampai ke kepulauan Maluku. Orang-orang dari Maluku, terutama Hitu, berguru kepada Sunan Giri; bahkan beberapa kyai yang berasal dari Giri diundang ke daerah itu untuk menjadi guru agama. Mereka ada yang dijadikan khātib, modin (Jw; penghulu), qādhī  atau hakim dalam masyarakat Maluku, dengan upah cengkeh.”

Dalam Serat Centini (Drewes, 1969:11) diberitakan mengenai sebuah pesantren tua yang termasyhur di wilayah Banten bernama ”Pesantren Karang”, karena letaknya di sekitar Gunung Karang sebelah barat kota Pandeglang (sekarang). Konon, tokoh utama dalam Serat Chentini, Jayengresmi alias Among Raga, dikisahkan pernah nyantrik dipaguron Karang, di bawah bimbingan seorang guru berkebangsaan Arab bernama Syekh Ibrāhīm b. Abūbākr, yang lebih dikenal dengan julukan “Ki Ageng Karang”. Dari Karang kemudian ia pergi menuntut ilmu ke paguron besar lain di Wanamarta Jawa Timur, pimpinan Ki Baji Panutra, di mana ia menunjukkan penguasaannya yang sangat mendalam atas kitab-kitab ortodoks. Demikian pula, salah seorang tokoh pemeran dalam Serat tersebut, yaitu seorang pertapa bernama Danadarma, mengaku telah belajar tiga tahun di Karang di bawah bimbingan “Kadir Jalena”; mungkin maksudnya dia belajar suatu ilmu atau ngelmu yang dikaitkan dengan sufi besar ’Abd al-Qādir al-Jīlānī.

Dus, pesantren Karang, dengan gurunya yang terkenal Seh Bari alias “Seh Bari ing Kawis” pada suatu masa antara 1527 (masuknya Islam di Banten) sampai akhir abad itu, dikenal sebagai pusat pendidikan Islam ortodoks, ujar Tjandrasasmita. Serat Centini tidak menyebut lembaga pendidikan tradisional yang ada dengan ”pesantren” melainkan “peguron” (perguruan) atau “padepokan”. Akan tetapi Serat Centini menuai kritik; dipertanyakan akurasinya sebagai sumber bertita ketika menggambarkan sosok Jayengresmi, yang hidup sejaman dengan Sultan Agung Mataram, yaitu pada paruh pertama abad ke- 17 M. Padahal Serat Chentini disusun pada awal abad ke-19 M., karenanya tidak bisa dianggap sebagai sumber informasi yang layak dipercaya mengenai keadaan di abad 17.

Berlawanan dengan informasi di atas, kitab Sajarah Banten yang disusun sekitar jaman ketika Jayengresmi konon hidup (Djajadiningrat, 1963:13) tidak menyebut sebuah peguron pun di Karang atau di tempat lain. Gunung Karang, sebagaimana disinggung dalam kitab itu, adalah tempat yang banyak dikunjungi orang-orang yang ingin melakukan tapa; sebuah praktek meditasi. Maulana Hasanuddin, Sultan Banten I, diberitakan pernah bertapa di gunung itu.  Diketahui dari kitab tersebut bahwa terdapat dua jenis pengajaran agama pada masa dahulu itu, yaitu; pertama, pendidikan pribadi untuk putera mahkota, yang ditangani Kyai Dukuh dan qādhī kesultanan, dan kedua, metodatalqīn (transformasi pengetahuan secara batin atau supranatural) ilmu Islam kepada Hasanuddin oleh dua makhluk jin di sebuah pertapaan. Selanjutnya menurut Sajarah Banten; pada abad ke-16 dan 17 M. ada dua macam guru. Yaitu guru yang mengajarkan agama Islam di masjid atau istana, dan guru ahli tasawuf dan magis yang berpusat di tempat pertapaan atau di dekat makam keramat.

Memang terdapat indikasi bahwa tempat-tempat pertapaan pra-Islam tetap bertahan beberapa waktu setelah Jawa diislamkan; bahkan beberapa tempat pertapaan yang baru terus didirikan. Namun tidak jelas, apakah tempat-tempat keramat tersebut juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan tempat pengajaran tekstual berlangsung?. Pesantren mungkin saja berkembang dari tempat-tempat seperti ini. Toh, penamaan pesantren sendiri barangkali baru muncul pada periode belakangan. Ketika Belanda datang untuk pertama kalinya pada tahun 1596, mereka menyaksikan orang-orang Banten memiliki guru-guru yang berasal dari tanah Arab atau Mekah, namun pendidikan agama ini berlangsung di istana dan masjid-masjid penting di kota Banten. Bukan dilakukan di perguruan-perguruan semacam pondok pesantren yang terletak jauh di desa. Seperti disebutkan di muka, Sajarah Banten mencatat daerah-daerah pedalaman dikaitkan dengan praktek-praktek asketik pra-Islam; daerah-daerah ini dikenal sebagai tempat pertapaan (patapan), tetapi tidak ada yang dikenali sebagai pesantren.

Beberapa pengarang cenderung menganggap desa perdikan (Fokkens, 1886) sebagai sarana kesinambungan pesantren dengan lembaga keagamaan sejenis pra-Islam. Desa perdikan yang dibebaskan dari pungutan pajak dan kerja rodi, penghasilannya harus dimanfaatkan untuk pemeliharaan dan pelaksanaan tugas sakral seperti memelihara tradisi dan tempat-tempat suci, makam keramat, dan sebagainya, nyatanya sangat sedikit dari desa perdikan yang sebagian penghasilannya secara eksplisit digunakan untuk pembiayaan pengajaran.  Memang pemeliharaan makam keramat secara tradisional merupakan suatu tugas keagamaan yang dihormati. Keluarga yang diberi kepercayaan memegang desa perdikan memiliki wibawa keagamaan tertentu, dan tidaklah mengherankan bila beberapa anggota keluarga itu ada yang menjadi guru agama berpengaruh, terutama  mengajarkan tasawuf dan magis. Ketika itulah peranan mengajar orang-orang tersebut menjadi terlembaga dalam bentuk apa yang mungkin dinamakan lembaga pesantren. Proses pembentukan pesantren yang bermula dari desa perdikan seperti ini telah digambarkan dengan cermat oleh Guillot (1985) dalam kasus berdirinya pesantren Tegalsari pada 1742.

Survei Belanda pertama mengenai pendidikan pribumi yang dilakukan pada 1819 memberikan kesan bahwa pesantren yang sebenarnya belum ada di seluruh Jawa. Lembaga-lembaga pendidikan yang mirip pesantren dilaporkan terdapat di Priangan, Pekalongan, Rembang, Kedu, Surabaya, Madiun, dan Ponorogo. Di daerah lain tidak terdapat pendidikan resmi sama sekali, kecuali pendidikan informal yang diberikan di rumah-rumah pribadi dan masjid. Madiun dan Ponorogo (dimana Tegalsari terletak) waktu itu memiliki pesantren terbaik. Di sini lah anak-anak dari pesisir utara pergi untuk melanjutkan pelajarannya. Sepanjang yang diamati van Bruinessen (1985:259 ), tidak ada bukti yang jelas adanya pesantren (dalam bentuk abad 19 M.) sebelum berdirinya Tegalsari.

Jejak adanya pesantren paling awal memang sulit dilacak, karena hampir dapat dikatakan di masa-masa dahulu tidak ditemukan pendidikan keagamaan yang sistematis. van Bruinessen menduga keras lembaga yang layak disebut pesantren belum berdiri sebelum abad ke-18 M. Bahkan juga di Banten sebelum abad itu. Meski Banten menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam sejak kira-kira satu abad sebelumnya. Pada masa kejayaan kesultanan Banten, ulama yang berasal dari berbagai negara menjadikan Banten sebagai rumah mereka, dan terdapat informasi tentang ahli-ahli agama Islam dari berbagai tempat di Nusantara mengunjungi Banten untuk memperoleh pengetahuan agama yang lebih mendalam. Pada tahun 1675 misalnya, Wakil Belanda di Banten melaporkan kedatangan seorang pendeta (paep) dari Ternate, yang berangkat ke Banten untuk menerima pengajaran lebih mendalam tentang “agama bangsa Moor”.

Barangkali juga belum ada semacam lembaga pesantren di beberapa daerah seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Lombok sebelum abad ke-20 M. Transmisi ilmu keislaman di sana masih sangat informal. Anak-anak dan orang dewasa belajar membaca dan menghafal al-qur'an dari orang-orang kampung yang telah lebih dahulu menguasainya. Kalau ada seorang haji atau pedagang Arab mampir ke desa itu, dia diminta singgah beberapa hari di sana dan mengajarkan kitab-kitab agama di masjid seusai salat. Ulama setempat di beberapa daerah juga memberikan pengajian umum kepada masyarakat di masjid. Murid-murid yang sangat berminat akan mendatangi ulama itu di rumahnya dan bahkan tinggal di sana untuk belajar agama. Murid-murid yang ingin belajar lebih lanjut pergi mondok ke Jawa, atau jika memungkin, ke Mekah. Itulah juga kiranya situasi yang ada di Jawa dan Sumatera selama abad-abad pertama penyebaran Islam.

Penelusuran yang dilakukan van Bruinessen (1985:25) terhadap sumber-sumber berliteratur keraton Jawa (seperti Serat Centini) dan arsip-arsip kolonial Belanda tentang tanah perdikan, sampai kepada kesimpulan bahwa kurikulum universal yang digunakan kalangan pesantren saat ini berasal dari permulaan abad 19 M., dan bersumber pada dominasi tradisi keilmuan Islam di tanah Hijaz.  Sebagaimana diketahui, para “ulama Jawi” telah menghabiskan waktunya di Mekah, Madinah, dan pusat-pusat pengajaran Islam di Timur Tengah guna menyerap tradisi dari kawasan Timur Tengah untuk dijadikan standard baku bagi intelektual di tanah air mereka di Nusantara. Nama-nama besar seperti Syekh Arsyad al-Banjari, Abdul Karim, Nawawi Banten, Abd al-Muhyi Pamijahan, Mahfudz Termas, Khalil Bangkalan dll merupakan representasi utama tradisi Hijaz di Kepulauan Nusantara. Karena itu, menurut Steenbrink (1986:27); pola khas pesantren sebagai lembaga pendidikan mencerminkan pengaruh asing, dan mungkin juga mempunyai akar asing meski bercampur dengan tradisi lokal yang lebih tua. Misalnya, ia menyerupai madrasah di India dan Timur Tengah.

Dugaan van Bruinessen bahwa lembaga pesantren belum ada sebelum abad 18 M. tidak berarti “kitab kuning” (lektur baku yang digunakan pesantren) tidak dipelajari sebelumnya. Kitab-kitab klasik berbahasa Arab sudah dikenal dan dipelajari pada abad ke-16 M.  Bahkan beberapa kitab pada jaman itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Melayu, sementara beberapa pengarang Indonesia telah menulis kitab-kitab dalam kedua bahasa tersebut dengan gaya dan isi yang serupa dengan kitab ortodoks. Sekitar tahun 1600, sejumlah naskah Indonesia berbahasa Melayu, Jawa, dan Arab dibawa ke Eropa. Warisan ini tentu memberi gambaran berharga, meskipun belum sempurna, tentang tradisi keilmuan di Nusantara saat itu.

Di abad-abad awal (sekitar abad ke-17 M.) disebabkan para ulama Nusantara lebih dikenal sebagai ahli dan penganut tasawuf, dan kurang terlalu tertarik kepada bidang hukum (fiqh), maka pengajaran agama didominasi teks-teks tasawuf. Akan tetapi di dalam perkembangannya dalam periode yang belakangan, fiqh yang diantara semua cabang ilmu agama Islam biasanya dianggap paling penting lantaran displin ini mengandung berbagai implikasi kongkret bagi perilaku keseharian individu maupun masyarakat, menggeser kedudukan pengajaran tasawuf.  Menjelang abad ke-19, ilmu-ilmu ortodoks terlihat mulai tumbuh-kembang. Bermula saat beberapa orang Indonesia yang telah pergi ke Mekah dan bermukim bertahun-tahun di sana, mulai menyebarkan intelektualisme ortodoks, terutama teologi ortodoks dan hadits, di pesantren-pesantren Indonesia, yang sedikit demi sedikit berkembang mengalami perubahan yang signifikan.

ELEMEN-ELEMEN PESANTREN


Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tentunya memiliki karakteristik atau ciri khas, yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lainnya. Berkenaan dengan hal tersebut, ada lima elemen atau karakterisitik dari sebuah pondok pesantren yang melekat atas dirinya yang meliputi: masjid, pondok, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, santri dan kyai.

Masjid


Di dunia pesantren masjid dijadikan ajang atau sentral kegiatan pendidikan Islam baik dalam pengertian modern maupun tradisional. Dalam konteks yang lebih jauh masjidlah yang menjadi pesantren pertama, tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar adalah masjid. Dapat juga dikatakan masjid identik dengan pesantren. Seorang kiai yang ingin mengembangkan sebuah pesantren biasanya pertama-tama akan mendirikan masjid di dekat rumahnya. Masjid memiliki fungsi ganda, selain tempat shalat dan ibadah lainnya juga digunakan untuk mendidik santri-santri yang belajar.

Menurut Abdurrahman Wahid dalam Majalah Santri (1997:51) mengatakan bahwa, masjid sebagai tempat mendidik dan menggembleng santri agar lepas dari hawa nafsu, berada di tengah-tengah komplek pesantren adalah mengikuti model wayang. Di tengah-tengah ada gunungan. Singkatnya, masjid di dunia pesantren difungsikan untuk beribadah dan tempat mendidik para santri. Juga, sebagai ciri khas lembaga pendidikan pesantren.


Pondok


Fenomena pondok pada pesantren merupakan sebagian dari gambaran ksederhanaan yang menjadi ciri khas dari kesederhaan santri di pesantren. Seperti ungkapan Imam Bawani, (1993:95), pondok-pondok dan asrama santri tersebut adakalanya berjejer laksana deretan kios di sebuah pasar. Di sinilah kesan kekurangteraturan, kesemerawutan dan lain-lain. Tetapi fasilitas yang amat sederhana ini tidak mengurangi semangat santri dalam mempelajari kitab-kitab klasik.

Pondok bukanlah ‘asrama’ atau ‘internaat’. Jika asrama telah disiapkan bangunannya sebelum calon penghuninya datang. Sedang pondok justru didirikan atas dasar gotong-royong yang telah belajar di pesantren. Dari uraian Zuhri tadi, dapat dikatakan, bahwa asrama dibangun dari kalangan berada dengan persiapan dan persediaan dana yang relatif memadai, sedang pondok dibangun dari kalangan rakyat biasa yang dibangun didasarkan pada desakan kebutuhan.

Tatanan bangunan pondok pesantren menggambarkan bagaimana kiai atau wasilun (orang yang sudah mencapai pengetahuan tentang ketuhanan) berada di depan santri-santri yang masih salik (menapak jalan) mencari ilmu yang sempurna (Abdurrahman Wahid, t.t.:51), kalau dalam istilah Ki Hajar Dewantoro, bahwa komposisi bangunan pondok pesantren melambangsan posisi kiai sebagai ing ngarso sung tulodo atau dalam bahasa al-Quran dikenal dengan istilah uswatun hasanah.

Pengajaran Kitab-Kitab Klasik


Kitab-kitab klasik biasanya dikenal dengan istilah kitab kuning yang terpengaruh oleh warna kertas. Kitab-kitab itu ditulis oleh ulama zaman dulu yang berisikan tentang ilmu keislaman seperti: Fiqh, hadits, tafsir maupun tentang akhlak. Ada dua esensinya seorang santri belajar kitab-kitab tersebut, di samping mendalami isi kitab maka secara tidak langsung juga mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa kitab tersebut. Oleh karena itu seorang santri yang telah tamat belajarnya di pesantren cenderung memiliki pengetahuan bahasa Arab. Hal ini menjadi ciri seorang santri yang telah menyelesaikan studinya di pondok pesantren, yakni mampu memahami isi kitab dan sekaligus juga mampu menerapkan bahasa kita tersebut menjadi bahasanya.

Penggalian khazanah budaya Islam melalui kitab-kitab klasik salah satu satu unsur yang terpenting dari keberadaan sebuah pesantren dan yang membedakannya dengan lembaga pendidikan yang lainnya. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional tidak dapat diragukan lagi berperan sebagai pusat transmisi dan desiminasi imu-ilmu keislaman, terutama yang bersifat kajian-kajian klasik. Maka pengajaran “kitab-kitab kuning” telah menjadi karakteristik yang merupakan ciri khas dari proses belajar mengajar di pesantren.

Santri


Istilah santri hanya terdapat di pesantren sebagai pengejawantahan adanya peserta didik yang haus akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang kiai yang memimpin sebuah pesantren. Oleh karena itu santri pada dasarnya berkaitan erat dengan keberadaan kiai dan pesantren (M. Bahri Gahzali, 2001:22-23). Di dalam proses belajar mengajar di pesantren santri terbagi atas dua tipe, yaitu:

  • Santri mukim



Santri mukim yaitu santri yang menetap, tinggal bersama kiai dan secara aktif menuntut ilmu dari seorang kiai. Dapat juga sebagai pengurus pesantren yang ikut bertanggung jawab atas keberadaan santri lain. Menurut Nurcholis Madjid, (1997:52) santri mukim ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren.

  • Santri kalong



Santri kalong pada dasarnya adalah seorang murid yang berasal dari desa sekitar pondok pesantren yang pola belajarnya tidak dengan jalan menetap di dalam pesantren, melainkan semata-mata belajar dan secara langsung pulang ke rumah setelah belajar di pesantren. Nurcholis Madjid (1997:52) mengatakan bahwa santri kalong ialah santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren. Mereka pulah ke rumah masing-masing setiap selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren.

Kiai


Kiai di samping pendidik dan pengajar, juga pemegang kendali material pesantren. Bentuk pesantren yang bermacam-macam adalah pantulan dari kecenderungan kiai. Kiai memiliki sebutan yang berbeda-beda tergantung daerah tempat tinggalnya (Mujamil Qomar, t.t.:20) Ali Maschan Moesa, (1999:60) mencatat: di Jawa disebut Kiai, di Sunda disebut Ajengan, di Aceh disebut Teungku, di Sumatera/Tapanuli disebut Syaikh, di Minangkabau disebut Buya, di Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah disebut Tuan Guru.

Menurut Chozin Nasuha dalam Marzuki Wahid, Suwendi dan Saefudin Zuhri, (1999:264) Kiai disebut alim bila ia benar-benar memahami, mengamalkan dan memfatwakan kitab kuning. Kiai demikian ini menjadi panutan bagi santri pesantren, bahkan bagi masyarakat Islam secara luas. Akan tetapi dalam konteks kelangsungan pesantren kiai dapat dilihat dari berbagai perspektif lainnya. Muhammad Tholchah Hasan, (1997:20) melihat kiai dari empat sisi yakni kepemimpinan ilmiah, spiritualitas, sosial, dan administrasi. Jadi ada beberapa kemampuan yang mestinya terpadu pada pribadi kiai dalam kapasitasnya sebagai pengasuh dan pembimbing santri.

SISTEM PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN


Pendidikan bagi umat manusia merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup dalam segala bidang dan sesuai dengan perkembangan serta kemajuan zaman karena saat sekarang kita berada dalam era globalisasi yang serba canggih dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Sehingga untuk meningkatkan kualitas hidup pondok pesantren harus selalu berproses menuju kerah yang lebih baik dengan meningkatkan kualitasnya.

Berkaitan dengan fungsi dari komponen lainnya yang secara terpadu bergerak menuju kearah satu tujuan yang telah ditetapkan. Komponen yang bertugas sesuai dengan fungsinya, bekerja antara satu dengan lainnya dalam rangkaian satu sistem. Sistem yang mampu bergerak secara terpadu bergerak ke arah tujuan sesuai dengan fungsinya. Sistem pendidikan adalah satu keseluruhan terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan dengan yang lainnya, untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan.

Sebagaimana didalam pesantren dengan pola hidup bersama antara santri dengan kiai dan masjid sebagai pusat aktifitas merupakan suatu sistem pendidikan yang khas yang tidak ada dalam lembaga pendidikan lain. Keunikan lain yang terdapat dalam sistem pendidikan pesantren adalah tentang metode pengajarannya sebagai berikut:

Metode Sorogan


Sistem dan pengajaran dengan pola sorogan dilaksanakan dengan jalan santri yang biasanya pandai menyorogkan sebuah kitab kepada kiai untuk dibaca di hadapan kiai itu. Dan kalau ada salahnya, kesalahan itu langsung dibetulkan oleh kiai itu. Di pesantren besar sorogan dilakukan oleh dua atau tiga orang santri saja, yang biasa terdiri dari keluarga kiai atau santri-santri yang diharapkan kemudian hari menjadi orang alim.

Metode sorogan merupakan sistem metode yang ditempuh dengan cara guru menyampaikan pelajaran kepada santri secara individual, biasanya di samping di pesantren juga dilangsungkan di langgar, masjid atau terkadang malah di rumah-rumah. Di pesantren, sistem sorogan merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan sistem pendidikan pesantren. metode ini memerlukan kesabaran dan juga ketekunan bagi seorang pengajar (ustadz), karena sasaran metode ini adalah kelompok santri pada tingkat rendah yaitu mereka yang baru menguasai pembacaan al-Quran.

Melalui sorogan, perkembangan intelektual santri dapat ditangkap kiai secara utuh. Dia dapat memberikan tekanan pengajaran kepada santri-santri tertentu atas dasar observasi langsung terhadap tingkat kemampuan dasar dan kapasitas mereka. Sebaliknya, penerapan metode sorogan menuntut kesabaran dan keuletan pengajar. Santri dituntut memiliki disiplin tinggi. Di samping aplikasi metode ini membutuhkan waktu lama, yang berarti kurang efektif dan efesien.

Wetonan atau Bandongan


Metode wetonan atau bandongan adalah metode yang paling utama di lingkungan pesantren. Metode wetonan (bandongan) ialah suatu metode pengajaran dengan cara guru membaca, menterjemahkan, menerangkan dan menulis buku-buku Islam dalam bahasa Arab sedang sekelompok santri mendengarkan.mereka memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan ) tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit.

Penerapan metode tersebut mengakibatkan santri bersikap pasif. Sebab kreativitas dalam proses belajar mengajar didominasi ustadz atau kiai, sementara santri hanya mendengarkan dan memperhatikan keterangannya. Dengan kata lain, santri tidak dilatih mengekspresikan daya kritisnya guna mencermati suatu pendapat. Wetonan dalam prakteknya selalu berorentasi pada pemompaan materi tanpa melalui kontrol tujuan yang tegas. Dalam metode ini, santri bebas mengikuti pelajaran karena tidak diabsen. Kiai sendiri mungkin tidak mengetahui santri–santri yang tidak mengikuti pelajaran terutama jumlah mereka puluhan atau bahkan ratusan orang. Ada peluang bagi sanrti untuk tidak mengikuti pelajaran. Sedangkan santri yang mengikuti pelajaran melalui wetonan ini adalah mereka yang berada pada tingkat menengah.

TRADISI PESANTREN


Tradisi pesantren adalah sistem pendidikan Islam yang tumbuh sejak awal kedatangan Islam di Indonesia, yang dalam perjalanan sejarahnya telah menjadi obyek penelitian para sarjana yang mempelajari Islam di wilayah Nusantara. Terlepas dari itu berikut akan sedikit dipaparkan mengenai tradisi-tradisi yang saat ini masih melekat pada pesantren-pesantren salaf umumnya:

Hubungan Ideal Antara Guru dan Murid


Didalam sebuah pesantren, sampai saat ini masih tetap tergambar jelas di mana seorang murid mematuhi gurunya yang berlaku hingga seumur hidup baik bagi kyai maupun santri. Rasa hormat yang mutlak itu harus ditunjukkan dalam seluruh aspek kehidupannya, baik dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, maupun pribadi. Melupakan ikatan dengan guru dianggap sebagai suatu aib besar, dan berakibat hilangnya barakah dari guru dan ilmu pengetahuannya tidak manfaat.

Pengajian Kitab Kuning


Penggalian khazanah budaya Islam melalui kitab-kitab klasik salah satu satu unsur yang terpenting dari keberadaan sebuah pesantren dan yang membedakannya dengan lembaga pendidikan yang lainnya. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional tidak dapat diragukan lagi berperan sebagai pusat transmisi dan desiminasi imu-ilmu keislaman, terutama yang bersifat kajian-kajian klasik. Maka pengajaran “kitab-kitab kuning” telah menjadi karakteristik yang merupakan ciri khas dari proses belajar mengajar di pesantren.

Selain itu Sulthon Mashud dan Khusnurdilo menggambarkan tradisi pesantren sebagai berikut:

1. Adanya hubungan akrab antar santri dengan kyainya.
2. Lebih mengutamakan hidup sederhana
3. Kemandirian
4. Dalam pesantren jiwa tolong menolong lebih terjaga dan benar-benar diwujudkan.


ANALISIS MENGENAI PESANTREN


Dalam pembahasan makalah pesantren ini, sejarah terbentuknya suatu lembaga pesantren memang dapat juga dikatakan berawal dari masuknya agama Islam di Nusantara. Meskipun kendati banyak sejarawan yang berbeda-beda pendapat mengenai munculnya kelambagaan tersebut, dan juga bukti-bukti yang ditemukan mungkin belum begitu sepenuhnya dapat kita ketahui. Namun dari kebanyakan sejarawan dalam menemukan titik temu pesantren sendiri lebih menghubungkan dengan proses Islamisasi Nusatara yang terjadi antara abad 15-16, dimana dapat kita ketahui mengenai berbagai jalan yang ditempuh untuk dakwah, baik melalui pendidikan, perkawinan, dan juga perdagangan.

Kebanyakan para sejarawan juga berpendapat bahwa Islamisasi Nusantara dilakukan dengan jalan mempengaruhi adat-istiadat dan tradisi masyarakat, serta memadukan antara pendidikan Islam dengan dengan pendidikan setempat yang sebelumnya menggunakan sistem pendidikan  padepokan. Sehingga tidak diherankan lagi jika ada sejarawan yang mengatakan bahwa pendidikan pesantren merupakan akomodasi dari pendidikan dari agama sebelumnya.

Sedangkan mengenai perkembangan sistem pembelajaran pondok pesantren dari masa awal hingga sekarang tidak jauh berbeda. Sebagaimana yang kita ketahui pesantren dimasa awal sampai modern ini metode yang diutamakan dalam mendidik santri menggunakan metode yang mungkin tidak asing lagi bagi kalangan santri, yaitu metode sorogan dan badongan.

Sebagaimana dalam perkembangannya pesantren sekarang ini dapat dibedakan kepada dua macam, yaitu pesantren tradisional dan pesantren modern. Sistem pendidikan pesantren tradisional sering disebut sistem salafi. Yaitu sistem yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Pondok pesantren modern merupakan sistem pendidikan yang berusaha mengintegrasikan secara penuh sistem tradisional dan sistem sekolah formal seperti madrasah.

Sebenarnya kalau kita dapat memehami tujuan proses modernisasi pondok pesantren adalah berusaha untuk menyempurnakan sistem pendidikan Islam yang ada di pesantren. Akhir-akhir ini pondok pesantren mempunyai kecenderungan-kecenderungan baru dalam rangka renovasi terhadap sistem yang selama ini dipergunakan. Perubahan-perubahan yang bisa dilihat di pesantren modern termasuk: mulai akrab dengan metodologi ilmiah modern, lebih terbuka atas perkembangan di luar dirinya, diversifikasi program dan kegiatan di pesantren makin terbuka dan luas, dan sudah dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.



Share :

Facebook Twitter Google+
4 Komentar untuk "Pesantren (Sejarah dan Pengertian)"

Pertamaxxx ....
Keren artikelnya sangat super komplit .
.
Sangat bermanfaat, kalau dilihat kayaknya anak pesantren nih

lebih baik lagi kalau dilengkapi referensi mas

dann untngnya ,masih eksis pondok pesantren,,,ibarat kata yang melahirkan individu yang beradab dan juga berintelektual :)