Follow me on Blogarama

main-nav-top (Do Not Edit Here!)

Turki Utsmani (Perkembangan, Kejayaan hingga Kemunduran)


Penyerbuan pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang telah menghancurkan kota Baghdad di Iraq merupakan akhir dari Daulah Bani Abbasiyah. Kehancuran Baghdad merupakan akhir kekuatan politik Islam yang selama ini telah memegang peranan penting dalam mewujudkan kebudayaan dan peradaban dunia. Bahkan khazanah ilmu pengetahuan pun ikut lenyap dan dihanguskan dan sejak itu pun dunia Islam mengalami kemunduran secara drastis.

Selanjutnya, politik umat Islam mulai mengalami kemajuan kembali setelah berdiri dan berkembangnya tiga kerajaan besar yaitu:

Utsmani di Turki sebagai benteng kekuatan Islam dalam menghadapi ekspansi Eropa ke Timur, maka dengan itu Turki Utsmani menjadi hal sangat penting dalam kajian Sejarah Islam walaupun dalam buku-buku sejarah tidak mendapat porsi yang banyak sebagaimana Dinasti Umaiyah dan Abbasiyah.

Mughal di India dan dengan kehadiran Kerajaan Mughal, maka kejayaan India dengan peradaban Hindunya nyaris tenggelam.

Safawi di Persia sebagai penganut Syi’ah yang dijadikan sebagai madzhab negara. Kerajaan Safawi dianggap sebagai peletak dasar pertama terbentuknya negara Iran sekarang ini.

Wilayah Turki Utsmani
Dari ketiga dinasti di atas, Dinasti Utsmani adalah yang pertama berdiri sekaligus yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua dinasti lainnya. Perjalanan panjang dan berliku selama 643 tahun kerajaan Turki Utsmani telah menampilkan 39 orang Sultan dengan model kepemimpinan yang berbeda-beda. Tetapi seperti Dinasti lainnya, hukum sejarah juga berlaku, bahwa masa pertumbuhan yang diiringi dengan masa perkembangan dan masa gemilang biasanya berakhir dengan masa kemunduran atau bahkan kehancuran.

Asal-Usul Dinasti Turki Utsmani


Bangsa Turki Utsmani pada awalnya adalah suku nomaden yang selama berabad-abad selalu mencari lahan perburuan baru di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Turki. Pada awal tahun masehi, ia dinamakan Bizantium di bawah kekuasaan Romawi yang berkuasa di kawasan ini selama lebih dari empat abad . Setelah Barbar merebut dari tangan Romawi ibukota kerajaan dipindahkan ke Konstantinopel (Ankara sekarang).

Awal berdirinya Dinasti Utsmani banyak tertulis dalam legenda dan sejarah sebelum tahun 1300 dengan mengorbankan kekaisaran Bizantium, dan didirikan di atas reruntuhan kerajaan Saljuk. Dinasti ini berasal dari suku Qoyigh Oghus yang menempati daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina kurang lebih 3 abad. Lalu mereka pindah ke Turkistan, Persia dan Iraq. Mereka memeluk Islam pada abad ke-9 atau ke-10 ketika menetap di Asia Tengah.

Ertughrul
Di bawah pimpinan Ertughrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin II yang sedang berperang melawan Bizantium. Karena bantuan mereka inilah, Bizantium dapat dikalahkan. Kemudian Sultan Alauddin memberi imbalan tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibukota. Ertughrul meninggal dunia tahun 1289. Kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya, Utsman.

Nama kerajaan Utsmaniyah itu diambil dari dan dibangsakan kepada nenek moyang mereka yang pertama yaitu Sultan Utsman bin Erthoghrul yang diperkirakan lahir tahun 1258. Ketika bangsa Mongol menyerang Kerajaan Saljuk, yang mengakibatkan meninggalnya Sultan Alaudin. Setelah meninggalnya Sultan Alaudin, Utsman memproklamarkan dirinya sebagai Sultan di wilayah yang didudukinya. Utsman bin Erthoghrul sering disebut Utsman I. Utsman Ibnu Erthoghrul memerintah dari tahun 1290-1326 M Utsman I memilih Bursa sebagai pusat dan ibukota kerajaan yang sebelumnya berpusat di Qurah Hisyar atau Iskisyihar.

Utsman bin Erthoghrul
Untuk memperluas wilayah dan kekuasaan, Utsman mengirim surat kepada raja-raja kecil di Asia Tengah yang belum ditaklukkan bahwa sekarang dia raja yang besar dan memberi penawaran agar raja-raja kecil itu memilih salah satu diantara tiga perkara, yakni; Islam, membayar Jizyah dan diperangi. Setelah menerima surat itu, sebagian ada yang masuk Islam ada juga yang mau membayar Jizyah dan ada juga yang memilih menentang dan bersekutu dengan Bangsa Tartar, akan tetapi Utsman tidak merasa gentar dan takut menghadapinya. Utsman dan anaknya Orkhan memimpin tentaranya dalam menghadapi bangsa Tartar, setelah mereka dapat ditaklukkan banyak dari penduduknya yang memeluk agama Islam.

Utsman mempertahankan kekuasaannya dengan gagah perkasa sehingga kekuasaannya tetap tegak dan kokoh bahkan kemudian dilanjutkan oleh puteranya dan saudara-saudaranya dengan kepemimpinan yang gagah berani dan perkasa dalam meneruskan perjuangan sang ayah dan demi kokohnya kekuasaan nenek moyang yang telah mewariskan darah kepahlawan itu kepada mereka.

Masa Perkembangan Turki Utsmani


Setelah Utsman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al Utsman (raja besar keluarga Utsman), sedikit demi sedikit daerah kerajaan dapat diperluasnya. Ia dan puteranya memimpin penyerangan ke daerah perbatasan Bizantium hingga ke selat Bosporus dan menaklukkan kota Bursa tahun 1317 M. Kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai pusat kerajaan. Perpindahan ini memberikan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan awal politik kesultanan.

Utsman I disukai sebagai pemimpin yang kuat bahkan lama setelah beliau meninggal dunia, sebagai buktinya terdapat istilah di Bahasa Turki “Semoga dia sebaik Utsman”. Reputasi beliau menjadi lebih harum juga disebabkan oleh adanya cerita lama dari abad pertengahan Turki yang dikenal dengan nama Mimpi Utsman, sebuah mitos yang mana Utsman diinspirasikan untuk menaklukkan berbagai wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah.

Bayazid
Selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Ia dapat menaklukkan Adnanopel yang kemudian dijadikan ibukota kerajaan yang baru. Merasa cemas terhadap ekspansi kerajaan ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Utsmani. Sultan Bayazid tidak gentar menghadapi pasukan sekutu di bawah anjuran Paus itu dan bahkan menghancurkan pasukan Salib. Pertempuran itu terjadi pada tahun 1369 M.

Timur Lenk
Ekspansi Bayazid I sempat berhenti karena adanya tekanan dan serangan dari pasukan Timur Lenk ke Asia kecil, seorang raja keturunan bangsa Mongol yang telah memeluk agama Islam yang berpusat di Samarkand. Ia bermaksud menaklukkan negeri-negeri barat seperti yang dilakukan oleh nenek moyangnya. Akhirnya perang yang menentukan terjadi di Ankara. Bayazid bersama anaknya, Musa dan Erthogol dikalahkan oleh Timur Lenk. Bayazid mati dalam tawanan Timur tahun 1402. Kekalahan ini membawa dampak yang sangat buruk bagi Dinasti Utsmani yaitu banyaknya penguasa-penguasa Seljuk di Asia kecil yang melepaskan diri. Tetapi Setelah Muhammad I naik tahta dan memimpin wilayah Utsmani dapat disatukan kembali.

Muhammad Al Fatih
Integrasi ini tampaknya mengejukan dunia Barat karena mereka sama sekali tidak menduga Utsmani akan bangkit secepat itu setelah berantakan akibat serangan Timur Lenk. Usaha beliau dalam meletakkan keamanan dan perbaikan diteruskan oleh puteranya Sultan Murad II (1421-1451). Turki Utsmani mengalami kemajuannya pada masa Sultan Muhammad II (1451-1484 M) atau Muhammad Al-Fatah.

Ia lebih terkenal dengan Al-Fatih, sang penakluk atau pembuka, karena pada masanya Konstantinopel sebagai ibukota kekaisaran Bizantium berabad-abad lamanya. dapat ditundukkan hal ini terjadi pada tahun 1453 M. Dan berhasil membunuh Kaisar Byzantium dalam perang itu. Kemenangan ini merupakan kemenangan terbesar bagi Utsamaniyah,lalu ia memberikan nama Istanbul (Kota kesejahteraan) dan menjadikannya sebagai ibukota.

Muhammad Al Fatih
Penaklukan Konstantinopel tahun 1453 mengukuhkan status Kesultanan Utsmaniyah sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur. Pada masa ini Kesultanan Utsmaniyah memasuki periode penaklukkan dan perluasan wilayah sampai ke Eropa dan Afrika Utara; dalam bidang kelautan, angkatan laut Utsmaniyah mengukuhkan kesultanan sebagai kekuatan dagang yang besar dan kuat.

Sultan Salim
Perekonomian kesultanan juga mengalami kemajuan berkat kontrol wilayah jalur perdagangan antara Eropa dan Asia. Bahkan mereka dikenal sebagai bangsa yang penuh semangat, memiliki kekuatan yang besar dan menghuni tempat yang strategis. Setelah Bayazid II mengundurkan diri karena lebih cendurung berdamai dengan musuh dan terlalu mementingkan kehidupan tasawuf dan juga tidak disukai oleh masyarakat maka ia pun digantikan oleh putranya Sultan Salim I yang mempunyai kecakapan dalam memerintah dan seorang ahli strategi perang. Lalu Sultan Salim I menggerakkan pasukannya ke Timur sehingga berhasil menaklukkan Persia, Syiria.

Pada tahun 923 H Khalifah Abbasiyah di Kairo menyerahkan khilafah kepadanya, sehingga Sultan Utsmaniyah Salim I menjadi khalifah kaum muslimin sejak saat itu. Pemuka-pemuka Makkah datang ke Kairo dan mengumumkan ketundukan Hijaz kepada Khalifah Utsmaniyah. Walaupun Sultan Salim memerintah hanya sebentar tetapi beliau sangat berjasa membentangkan daerah kekuasaannya hingga mencapai Afrika Utara.

Masa Kejayaan Turki Utsmani


Pada awalnya kerajaan Turki Utsmani hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, namun dengan adanya dukungan militer, Kerajaan yang besar bisa bertahan dalam kurun waktu yang lama. Masa pemerintahan Sulaiman (Al-Qanuni) bin Salim puncak perluasan dan kebesarannya. Dia menguasai Beograd, kepulauan Rodhesia, semenanjung Krym dan Ibukotanya Valachie, menerobos Eropa, hingga sampai Wina ibukota Austria. Dia melakukan pengepungan dua kali, menaklukkan Hungaria, membunuh orang-orang Portugis di pesisir India, dan mengalahkannya pada tahun 934 H. Bahkan beliau menaklukkan menaklukkan Mesir, Afrika Utara hingga ke Al-Jazair, di Asia hingga ke Persia yang meliputi Lautian Hindia, Laut Arab, Laut Merah, Laut Tengah, Laut Hitam.

Sulaiman al-Qanuni
Pada masa Sulaiman (Al-Qanuni) bin Salim adalah puncak keemasan dan kejayaan kerajaan Turki Utsmani. Ia digelari Al-Qanuni karena jasanya dalam mengkaji dan menyusun kembali sistem undang-undang kesultanan Turki Utsmani dan perlaksanaannya secara teratur dan tanpa kompromi menurut keadaan masyarakat Islam Turki Utsmani yang saat itu mempunyai latar belakang dan sosial-budaya yang berbeda. Pergaulan antar bangsa menimbulkan berbagai konflik kecil dan ini bisa mengganggu keselamatan umat Islam walaupun satu agama. Hal ini menyebabkan Sulaiman I menyusun dan mengkaji budaya masyarakat Islam Turki Utsmani yang berasal dari Eropa, Persia, Afrika dan Asia Tengah untuk disesuaikan dengan undang-undang Syariah Islamiyah.

Sulaiman bukan hanya Sultan yang paling terkenal dari kalangan Sultan-Sultan Turki Utsmani, akan tetapi pada awal abad ke 16 ia adalah kepala negara yang paling terkenal di seluruh dunia. Ia seorang Sultan yang shaleh, ia mewajibkan rakyat muslim harus shalat lima kali dan berpuasa di bulan ramadhan, jika ada yang melanggar tidak hanya dikenai denda namun juga sanksi badan. Sulaiman juga berhasil menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Turki, pada saat Eropa terjadi pertentangan antara Katholik kepada Khalifah Sulaiman, mereka diberi kebebasan dalam memilih agama dan diberikan tempat di Turki Utsmani.

Beliau juga seorang tokoh negarawan Islam yang terulung di zamannya, dikagumi dan disegani kawan dan lawan, belajar ilmu kesusasteraan, sains, sejarah, agama dan taktik ketentaraan di Istana Topkapı, Istanbul. Di Barat, ia dikenal dengan nama Suleiman The Magnificent (Sulaiman yang Agung). Pada setiap kota utama yang ditaklukannya, Sulaiman menghiasinya dengan mesjid, jembatan dan berbagai fasilitas umum lainnya.

Masa Kemunduran Turki Utsmani


Pada akhir kekuasaan Sulaiman I kerajaan Utsmani berada diantara dua kekuatan yaitu Monarki Austria di Eropa dan Kerajaan Safawi di Asia. Sepeninggal Sulaiman tahun 1566, beberapa daerah kekuasaan kesultanan mulai melepaskan diri termasuk juga kebangkitan kerajaan-kerajaan Eropa di Barat dan dengan ditemukannya jalur alternatif Eropa ke Asia melemahkan perekonomian Kesultanan Utsmaniyah. Melemahnya kerajaan Utsmani pada periode awal sebagaian besar disebabkan oleh persoalan internal atau domestik.

Disamping Efektifitas militer, struktur birokrasi dan sistem pemerintah serta warisan berabad-abad juga menjadi penyebab kelemahan pemerintahan. Di tengah kemundurannya, Turki Utsmani masih sempat melebarkan sayap kekuasaannya. Upaya yang dilakukan semasa pemerintahan Murad III (1574-1595) berhasil membuat daerah Kaukasus dan Azerbaijan direbut. Dengan kedua daerah penaklukan baru ini, Turki Utsmani mencapai luas bentangan geografis yang terbesar sepanjang sejarahnya. Walau bagaimanapun, kemunduran Turki sudah tak bisa dibendung lagi. Keberhasilan merebut Kaukasus dan Azerbaijan hanya berumur pendek. Kedua daerah kekuasaan baru tersebut kembali lepas tahun 1603.

Walaupun begitu, kesultanan ini tetap menjadi kekuatan ekspansi yang besar sampai kejadian Pertempuran Wina tahun 1683 yang menandakan berakhirnya usaha ekspansi Kesultanan Utsmaniyah ke Eropa. Setelah perang ini Turki harus rela kehilangan sebagian besar daerah Balkan dan Laut Hitam akibat perang berkepanjangan. Selama abad ke 18 M tanda-tanda kemunduran daulah Utsmaniyah semakin nampak jelas kelihatan, mulai dari politik, masa transisi penaklukan dan perdamaian yang dimanfaatkan oleh kekuatan asing terutama oleh Austria dan Rusia.

Kelemahan Militer Turki semakin nyata kelihatan ketika terjadi konflik dengan Rusia yang telah dimulai sejak 1768 M. Sistem administrasi Utsmani stagnan selama beberapa periode, yang menyebabkan hilangnya pengaruh otoritas pemerintahan pusat. Pada abad ke 19 M telah muncul banyak gerakan pembaharuan yang kurang lebih merupakan aplikasi tanzimat. Tanzimat berasal dari bahasa Arab yang mengadung arti mengatur, menyusun dan memperbaiki, dan di zaman itu memang banyak diadakan peraturan undang-undang baru. Salah satu pemukanya adalah Mustafa Sami yang menurut pendapatnya kemajuan Eropa dihasilkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, atau toleransi beragama dan kemampuan orang Eropa melepaskan diri dari ikatan-ikatan agama. 

Sikap otoriter yang dipakai Sultan dan Menteri-menterinya dalam melaksanakan tanzimat mendapat kritik keras. Kehancuran imperium Utsmani merupakan transisi yang lebih kompleks dari masyarakat Islam-imperial abad 18 M menjadi negara-negara nasional modern. Rezim Utsmani menguasai wilayah yang sangat luas, meliputi Balkan, Turki, Timur Tengah Arab, Mesir, dan Afrika Utara. Puncak kemunduran Turki Utsmani terjadi pada 1850-1922. Demikian lemahnya Turki hingga digambarkan sebagai “Orang sakit dari Eropa”.

Turki terlibat Perang Dunia I, untuk bergabung bersama Jerman-sebuah pilihan yang salah dan keliru yang mengakibatkan pada kekalahan dan keterpurukan yang lebih dalam. Di dalam negeri, kekalahan tersebut membangkitkan gerakan nasionalis Turki yang telah muak dengan kemerosotan moral yang dialami oleh pemimpin mereka. Dipelopori oleh Turki muda yang tampil setelah undang-undang Utsmaniyah yang tadinya berlandaskan syuro menjadi model kekuasaan mutlak. Kemudian Musthofa Kamal menggabungkan diri ke dalam organisasi ini dan menuntut kembali pengembalian undang-undang.

Abdul Hamid
Di bawah tekanan organisasi ini Sultan Abdul Hamid mengembalikan Undang-undang ini. Organisasi ini kemudian menduduki ibukota dan mengasingkan Sultan. Namun ketika kekuasaan sudah mereka rebut para pembesar organisasi mulai bersikap diktator sampai akhirnya Mustafa Kamal At-Turk mendirikan Nasionalis Turki dan menggantikan model kekahlifahan dengan Republik Sekuler pada tahun 1923 M.

Sejak kekuasaannya Turki telah jauh secara total dari Islam. Dia menghapus Khilafah mendorong ke arah sekuralisme (paham memisahkan agama dari dunia), meminimalisir penggunaan bahasa Arab di Turki bahkan ia mengganti adzan dengan bahasa Turki. Musthofa Kemal terus disibukkan dengan jabatan presidennya hingga dia meninggal pada tahun 1938. Dia tidak meninggalkan bagi Turki selain kemiskinan dan keterasingan.

Kemajuan-Kemajuan yang dicapai pada Turki Utsmani


Rentang sejarah antara tahun 923-1342 H dari sejarah Islam merupakan masa Utsmaniyah. Hal ini karena kekuasaan Utsmaniyah merupakan periode terpanjang dari halaman sejarah Islam. Selama 6 abad pemerintah Utsmaniyah telah memainkan peran yang sangat penting karena sebagai satu-satunya yang menjaga dan melindungi kaum muslimin. Merupakan pusat Khilafah Islamiyah, karena merupakan pemerintah Islam terkuat. Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Utsmani yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang penting, diantaranya :

Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan


Untuk pertama kalinya Kerajaan Utsmani mulai mengorganisasi taktik, strategi tempur dan kekuatan militer dengan baik dan teratur. Sejak kepemimpinan Ertoghul sampai Orkhan adalah masa pembentukan kekuatan militer.
Armada

Perang dengan Bizantium merupakan awal didirikannya pusat pendidikan dan pelatihan militer, sehingga terbentuklah kesatuan militer yang disebut dengan Jenissari atau Inkisyariah. Selain itu kerajaan Utsmani membuat struktur pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan Sultan yang dibantu oleh Perdana Menteri yang membawahi Gubernur. Gubernur mengepalai daerah tingakat I. Di bawahnya terdapat beberapa bupati. Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaiman I dibuatlah UU yang diberi nama Multaqa Al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Utsmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasanya ini, di ujung namanya ditambah gelar al-Qanuni.

Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya


Kebudayaan Turki Utsmani merupakan hasil perpaduan berbagai kebudayaan seperti kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia mereka banyak mengambil ajaran-ajaran beretika dan bertata krama dalam istana raja-raja. Organisasi birokrasi dan kemiliteran banyak diserap dari Bizantium. Dan prinsip-prinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, keilmuan dan huruf diambil dari bangsa Arab.

Sedangkan di bidang Ilmu Pengetahuan di Turki Utsmani tidak begitu menonjol karena mereka lebih fokus pada pengembangan kekuatan militer, sehingga dalam khasanah Intelektual Islam tidak ada Ilmuan yang terkemuka dari Turki Utsmani. Namun demikian mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah-indah, seperti Masjid Jami’ Sultan Muhammad Fatih, Masjid Agung Sulaiman dan Masjid Abi Ayyub Al-Ansyari, seluruh masjid ini dihiasi dengan kaligrafi yang indah-indah. Salah satu masjid yang indah kaligrafinya adalah mesjid Aya Sopia yang kaligrafinya menutupi gambar-gambar kristiani sebelumnya.

Bidang Keagamaan


Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Para Mufti menjadi pejabat tertinggi dalam urusan agama yang mempunyai wewenang dalam memberi fatwa resmi terhadap problem keagamaan yang terjadi dalam masyarakat. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Ajaran-ajaran tarekat mengalami perkembangan dan kemajuan di Turki Utsmani.

Pada masa Turki Utsmani ada dua tarekat yang dikenal yaitu: tarekat Bektasyi dan Tarekat Maulawi. Tarekat Bektasyi mempunyai pengaruh di kalangan tentara. Sedangkan Tarekat Maulawi mendapat dukungan dari para penguasa. Adapun kajian-kajian ilmu keagamaan, seperti tafsir, hadits, fiqh, ilmu kalam boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti.

Para penguasa lebih cenderung fanatik pada satu madzhab dan menyalahkan madzhab lainnya. Sehingga ijtihad tidak berkembang. Para ulama ketika itu lebih senang menulis buku dalam bentuk syarah dan catatan-catatan pada karya-karya terdahulu.

Bidang Intelektual


Kemajuan bidang Intelektual Turki Utsmani tampaknya tidak lebih menonjol dibandingkan bidang politik dan kemiliteran. Aspek-aspek intelektual yang dicapai adalah:

  1. Terdapat dua surat kabar yang muncul pada masa itu yaitu: Berita harian Takvini Veka dan Jurnal Tasviri Efky
  2. Pendidikan, terjadi transformasi pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar, menengah, dan perguruan tinggi, fakultas kedokteran, fakultas hokum dan mengirinkan pelajar yang berprestasi ke Prancis.
  3. Sejarawan Istana, Arifi karyanya sha-name-I-Al-I Osman, cerita tentang keluarga raja-raja Utsmani Kemajuan-kemajuan yang diperoleh kerajaan Turki Utsmani tersebut tidak terlepas daripada kelebihan-kelebihan yang mereka miliki, antara lain:
  • Mereka adalah bangsa yang penuh semangat, berjiwa besar dan giat. Diliputi semangat perang salib.
  • Mereka memiliki kekuatan militer yang besar. Kekuasaan mereka meliputi tiga benua: Eropa, Asia dan Afrika.
  • Bangsa Utsmaniyah menghuni tempat yang sangat strategis, yaitu Constantinopel yang sangat penting pada peta dunia. ibukota istanbul ditinjau dari keadaan tanahnya sangat strategis. Tidak ada bandingannya. Ia berada pada titik-temua antara asia dan Eropa.
  • Semangat Jihad dan ingin mengembangkan Islam.
  • Suka Menolong muslim lainnya. Mereka telah mendatangi Eropa Timur untuk meringankan tekanan kaum nasrani terhadap Andalusia. Mereka juga mengusir Portugis di negeri-negeri muslim. Mereka juga menggagalkan usaha Portugis menguasai Tanah Haram. Disamping itu keberanian, ketangguhan dan kepandaian taktik yang dilakukan olah para penguasa Turki Utsmani sangatlah baik, serta terjalinnya hubungan yang baik dengan rakyat kecil, sehingga hal ini pun juga mendukung dalam memajukan dan mempertahankan kerajaan Turki Utsmani.


Sebab-sebab kemunduran Turki Utsmani


Kemunduran Turki Utsmani terjadi setelah wafatnya Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya kekacauan yang terjadi setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya perebutan kekuasaan antara putera beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman sebagian besar orang yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk. Juga karena melemahnya semangat perjuangan prajurit Utsmani yang mengakibatkan kekalahan dalam mengahadapi beberapa peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan sistem pemerintahan tidak berjalan semestinya.

Selain faktor di atas, ada juga faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Utsmani mengalami kemunduran dan akhirnya mengalami kehancuran ada dua faktor yaitu Internal dan Eksternal:


Faktor-faktor Internal

  • Luasnya Wilayah Kekuasaan Perluasan wilayah yang begitu cepat yang terjadi pada daerah kerajaan Utsmani, menyebabkan pemerintahan merasa kewalahan dalam melakukan administrasi pemerintahan, terutama pasca pemerintahan Sultan Sulaiman. Sehingga administrasi pemerintahan kerajaan Utsmani menjadi semberawut. Penguasa Turki Utsmani lebih mengutamakan ekspansi, dengan mengabaikan penataan sistem pemerintahan. Hal ini menyebabkan wilayah-wilayah yang jauh dari pusat mudah diserang dan direbut oleh musuh sehingga sebagian berusaha melepaskan diri.



  • Ledakan jumlah penduduk Perubahan mendasar terjadi pada jumlah penduduk kerajaan. Penduduk Turki pada abad keenam belas bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Problem kependudukan waktu itu lebih banyak disebabkan oleh tingkat pertambahan penduduk yang sedemikian tinggi dan ditambah dengan menurunnya angka kematian akibat masa damai dan aman yang diciptakannya kerajaan serta menurunnya frekuensi penaklukan.



  • Heterogenitas Penduduk Sebagai kerajaan besar, yang merupakan hasil ekspansi dari berbagai kerajaan-kerajaan kecil, maka di kerajaan Turki terjadi heterogenitas penduduk. Dari banyaknya dan ragam penduduk, maka jelaslah administrasi yang dibutuhkan juga harus memadai dan bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tetapi kerajaan Utsmani pasca Sulaiman tidak cakap dalam administrasi pemerintahan di tambah lagi dengan pemimpin-pemimpin yang berkuasa sangat lemah dan mempunyai perangai yang buruk.



  • Kelemahan para Penguasa dan sistem demokrasi Sepeninggalan Sulaiman, terjadilah pergantian penguasa. Penguasa-penguasa tersebut memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang tidak cakap dalam hal pemerintahan dan tidak paham militer akibatnya pemerintahan menjadi kacau dan susah teratasi.



  • Budaya Pungli Budaya pungli telah meraja-lela sehingga mengakibatkan dekadensi moral terutama di kalangan para pejabat yang sedang memperebutkan kekuasaan (jabatan).



  • Pemberontakan Tentara Jenissari Pemberontakan Jenissari terjadi sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M dan 1826 M. Pihak Jenissari tidak lagi menerapkan prinsip seleksi dan prestasi, keberadaannya didominasi oleh keturunan dan golongan tertentu yang mengakibatkan adanya ketidak setujuan dan pemberontakan-pemberontakan.



  • Merosotnya Ekonomi Akibat peperangan yang terjadi secara terus menerus maka biaya pun semakin membengkak, sementara belanja negara pun sangat besar, sehingga perekonomian kerajaan Turki pun merosot, disampoing dampak pertumbuhan perdagangan dan ekonomi internasional.



  • Rendahnya kualitas keislaman Tidak adanya kesadaran Islam yang benar pada mereka, serta tdk adanya pemahaman bahwa Islam merupakan sistem hidup yang sempurna. Mayoritas mereka hanya mengenal Islam sebatas ibadah.



  • Mengabaikan bahasa arab Diabaikannya bahasa arab yang merupakan bahasa al-Qur’an dan al-Hadits yang mulia, di mana keduanya merupakan sumber asasi bagi syariat Islam.



  • Gonta-ganti pejabat Gampang mengganti pejabat wilayah, khususnya pada masa akhir kekuasaannya, karena khawatir wilayah itu akan memerdekakan diri. Hal ini menyebabkan kurangnya pemahaman pejabat baru terhadap wilayah yang dipimpinnya.

Faktor-faktor Eksternal


  • Timbulnya gerakan nasionalisme. Bangsa-bangsa yang tunduk pada kerajaan Turki selama berkuasa, mulai menyadari kelemahan dinasti tersebut. Kekuasaan Turki atas mereka bermula dari penaklukan dan penyerbuan. Meskipun Turki telah berbuat sebaik mungkin kepada pihak yang dikuasai, mereka beranggapan bahwa Turki melemah, mereka bangkit untuk melepaskan diri dari cengkraman kerajaan tersebut.



  • Terjadinya kemajuan teknologi di Barat, khususnya dalam bidang persenjataan. Sementara itu, di Turki terjadi stagnasi ilmu pengetahuan sehingga ketika terjadi kontak senjata antara kekuasaan Turki dengan kekuatan Eropa, Turki selalu menderita kekalahan karena masih menggunakan senjata tradisional sedangkan Eropa telah menggunakan senjata modern.




  • Konspirasi Yahudi menjatuhkan Khilafah Menurut Syaikul Islam Musthafa Sabri Mustapa Kamal memiliki hubungan yang kuat dengan kelompok Yahudi, bahkan ia salah seorang dari mereka, sebagaimana dikuatkan oleh anggota lembaga  ittihadiyah dan Kamaliyah mereka semua mengikuti upacara ritual freemosanry.

Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Turki Utsmani (Perkembangan, Kejayaan hingga Kemunduran)"