Follow me on Blogarama

main-nav-top (Do Not Edit Here!)

Hamzah Fansuri

Riwayat Hidup

Hamzah Fansuri ialah seorang ulama dan pujangga besar Melayu. Beliaulah penyair Melayu pertama yang mengubah syair-syair bersifat agama. Hamzah Fansuri dipercayai dilahirkan pada akhir abad ke-16 di Barus atau Panchor (yang dalam bahasa Arab disebut Fansur), Sumatera Utara. Tanggal lahir dan wafat Hamzah Fansuri tidak diketahui secara pasti, namun diduga bahwa beliau hidup pada masa kekuasaan sultan Alauddin Riayah Syah (1589-1606).

Pada tahun 1726, Francois Valentijn dalam bukunya Oud en Nieuw Oost-Indie (Hindia Timur Lama dan Baharu) pada bab mengenai Sumatera, menyebut Hamzah Fansuri sebagai seorang penyair yang dilahirkan di Fansur. Barus merupakan salah satu daerah di Kabupaten Tapanuli Tengah, secara geografis terletak di pesisir barat pulau Sumatera, dan secara dialektologi penduduknya mayoritas menggunakan bahasa Mandailing. Pada zaman Hamzah daerah ini merupakan pusat perdagangan dengan penduduk yang ramai.

Masa muda Hamzah Fansuri tidak diketahui, demikian juga dengan pengabdiannya sebagai ulama dan penasehat sultan Aceh. Syeikh Nuruddin ar-Raniri, yang menjadi penasehat kerajaan pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Thani (1636-1641), di dalam salah satu karyanya memang menyebutkan sejumlah nama penting, misalnya Syamsuddin al-Sumatrani. Syamsudin adalah murid Hamzah Fansuri, tetapi Nuruddin sama sekali tak menyebut-nyebut tentang Hamzah Fansuri.

Ada dua kemungkinan mengapa Nuruddin tidak menyebutkan tentang Hamzah Fansuri. Pertama, ia hidup setelah Hamzah Fansuri meninggal, sehingga ia tidak dapat bertemu secara langsung dengan Hamzah Fansuri. Kedua, seperti yang telah diketahui oleh umum, Nuruddin sangat menentang doktrin wahdat al-wujud yang dianut oleh Hamzah Fansuri. Nuruddin berhasil membujuk Sultan Iskandar Thani untuk memberantas ajaran Hamzah Fansuri, bukan hanya melalui argumentasi ilmiah atau keagamaan, tetapi juga dengan kekerasan fisik. Sehingga, buku-buku yang mengandung ajaran itu dibakar, dan penganut-penganutnya dituntut, bahkan ada yang dihukum mati.

Pemikiran Hamzah Fansuri


Hamzah Fansuri adalah seorang penganut mazhab tasawuf wahdat al-wujud atau wujudiyah atau Martabat Tujuh. Keyakinannya itu terungkap baik dalam karya-karya teologisnya maupun dalam karya-karya sastranya. Kesusastraan keagamaan Melayu pada masa Hamzah Fansuri hidup, memang berkembang pesat, seiring dengan penyebaran agama Islam di seluruh kepulauan Nusantara dan pendirian berbagai kerajaan Melayu-Islam di beberapa tempat, yaitu di Pasai, Melaka dan Aceh.

Wahdat al-Wujud yang dianut oleh Hamzah Fansuri adalah salah satu doktrin tasawuf yang dipengaruhi oleh filsafat dan berbagai sumber non-dogmatik lain. Tradisi wahdat al-wujud adalah bagian dari silsilah intelektual yang dikembangkan dari teks-teks Yunani, Persia, dan India yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Para pemikirnya antara lain adalah al-Kindi (sekitar 958 M), al-Farabi (sekira 958 M), Ibnu Sina (958-1137 M), Ibnu Bajah (sekira 1138 M), Ibnu Taufail (sekira 1185 M), Ibnu Rusydi (1126-1198).

Sedangkan gagasan awalnya dapat dilacak hingga Plato dan Plotinus. Doktrin ini juga mempunyai hubungan dengan tipe mistisisme Islam yang dapat ditemukan dalam studi-studi mistik oleh Abu Yazid al-Bistami (sekira 874 M), al-Hallaj (sekira 921 M), dan Ibnu al-Farid (sekira 1235). Pengaruh terbesar datang dari Ibnu Arabi (sekira 1240 M), terutama di dalam kitabnya yang berjudul Fusus al-Hikam.

Pengaruh doktrin ini di Malaka dapat ditemukan dalam Sejarah Melayu, yang mendeskripsikan bahwa balairung Malaka mencari jawaban dari Pasai bagi pertanyaan tentang apakah para penghuni surga dan neraka akan tetap tinggal kekal di dalamnya. Pertanyaan inilah yang diajukan juga oleh Ibnu Arabi.

Setelah jatuhnya Melaka ke tangan Portugis, pengaruh filsafat dan doktrin wujudiyah terutama, telah bergeser dari Melaka ke Aceh. Pada saat inilah Hamzah Fansuri menulis karya-karya keagamannya. Situasi di Aceh pada masa itu memang memungkinkan para penulis untuk berkarya di sana. Setelah Malaka jatuh, Aceh berkembang bukan hanya sebagai pusat perdagangan tetapi juga sebagai kerajaan Islam yang terkemuka.

Hamzah Fansuri yakin dan mengajarkan bahwa, karena manusia berasal dari Tuhan, maka manusia tidak merdeka. Kebebasannya adalah cerminan dari kebebasan Tuhan yang absolut. Maka, manusia dapat saja mengikuti kehendaknya sendiri yang disesuaikan dengan kehendak sejati Tuhan, atau ia dapat juga mengikuti kehendak dan nafsunya sendiri di dunia ini. Dunia ini juga berasal Tuhan, tetapi wujudnya bukanlah wujud yang sejati. Jika manusia mengikuti dunia ini, berarti ia tertipu. Sedangkan jika ia meninggalkan dunia ini, berarti ia menemukan hakikat dan nasibnya yang sejati.

Menurut Hamzah Fansuri, seorang Sufi pertama-tama harus mahir dalam hukum-hukum dan teologi Islam sebelum mendaki tingkatan misteri yang lebih tinggi dalam menuju Tuhan. Ia juga menetapkan perlunya moralitas dan kontrol diri yang ketat.

Karena doktrin wujudiyah sangat populer pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 di berbagai daerah, khususnya Aceh, pemikiran dan syair-syair Hamzah Fansuri tentu cukup luas tersebar di kalangan kaum Sufi di aliran tersebut. Bahkan, penyebarannya tidak hanya di Aceh, melainkan juga di beberapa daerah lain.

Di Jawa, misalnya, karya-karya Hamzah Fansuri disebarkan hingga ke Banten, Cirebon, Pajang, dan Mataram, serta diterjemahkan atau digarap ke dalam bahasa Jawa. Sejak abad ke-17, mistik dan ajaran yang ada di Jawa terwujud dalam bentuk manunggaling kawulo gusti, yang dalam berbagai bentuk tetap hadir dalam sejarah agama Islam di Jawa.

Karya-karya Hamzah Fansuri


  1. Syair Si Burung Pingai
  2. Syair Sidang Fakir
  3. Syair Syarab al-‘Asikin
  4. Syair Dagang
  5. Syair Perahu
  6. Asrar al-‘Arifin fi Bayan Ilmu Suluk wa al-Tauhid, yang membahas tentang masalah-masalah ilmu tauhid dan ilmu thariqat
  7. Ruba‘i Hamzah Fansuri, syair sufi yang penuh butir-butir  filsafat
  8. Al-Muntahi, yang membicarakan masalah-masalah tasawuf


Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Hamzah Fansuri"