Follow me on Blogarama

main-nav-top (Do Not Edit Here!)

Kedatangan Islam di Nusantara dan Proses Penyebarannya


Kedatangan Islam ke Nusantara telah mengundang banyak perhatian para ilmuwan daripada pengaruhnya terhadap masyarakat pribumi. Kedatangan Islam tentu saja dibawa oleh pedagang muslim dari luar kawasan nusantara. Tanpa keberhasilan niaga saudagar muslim, orang-orang Indonesia tidak akan pernah sama sekali berhadapan dengan pilihan yang bernama Islam, dan tanpa dukungan kekuasaan Negara pilihan ini tidak akan mampu menjangkau mereka yang berada di luar pusat-pusat perdagangan.

Para sarjana dan peneliti bersepakat tentang proses kedatangan dan penyebaran Islam di Nusantara terjadi melalui jalan damai. Selain itu agama Islam dapat diterima dengan mudah di Nusantara oleh para penguasa Nusantara karena mereka mempunyai tujuan tertentu. Menurut Van Leur, Islam dapat secara baik dilihat sebagai sebuah “Alat politik menghadapi perdagangan India.”

Menurut Profesor O.W. Wolters, di dalam pikiran raja Malaka pra-Muslim, Islam, telah menghadirkan diri sebagai suatu “Sarana siap pakai untuk menarik para pedagang Muslim ke pelabuhannya.” Lebih jauh, penerimaan doktrin-doktrin Muslim tertentu akan memungkinkan para penguasa Nusantara untuk merumuskan fungsi-fungsi kuno mereka dalam istilah-istilah yang dapat dipahami oleh para pedagang Muslim yang juga merupakan para warga potensial pemerintahan penguasa mereka.

Thomas W. Arnold, dengan buku klasiknya, The Preaching of Islam (1950), menyimpulkan bahwa penyebaran dan perkembangan historis Islam di Asia Tenggara berlangsung secara damai; dalam istilah Arnold di sebut Penetration Pacifigure. Penyebaran Islam secara damai di Asia Tenggara berbeda dengan ekspansi Islam di banyak wilayah Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika yang oleh sumber-sumber Islam di Timur Tengah disebut Fath (atau futuh), yakni pebebasan, yang sering melibatkan kekuatan militer. Meskipun futuh di kawasan-kawasan yang disebutkan terakhir ini tidak selamanya berupa pemaksaan penduduk setempat untuk memeluk Islam, akhirnya wilayah ini mengalami Islamisasi yang lebih intens.

Sebaliknya penyebaran Islam di Asia Tenggara tidak pernah disebut futuh yang disertai kehadiran kekuatan militer Muslim dari luar. Hasilnya, Asia Tenggara sering disebut sebagai wilayah Muslim yang The Least Arabicized atau paling kurang mengalami Arabisasi. Itu sebabnya para pengamat luar menganggap Islam di Asia Tenggara mempunyai watak atau karasteristik yang khas, yang berbeda dengan Islam di kawasan lain, khususnya di Timur Tengah. Karasteristik terpenting Islam di Asia Tenggara itu, misalnya, watak yang lebih damai, ramah, dan toleran.

Sejauh menyangkut kedatangan Islam di Nusanrata, terdapat diskusi dan perdebatan yang panjang di antara para ahli mengenai tiga masalah pokok, yaitu: tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Beberapa teori yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tampaknya tidak memberi jawaban yang menyakinkan bukan hanya karena kurangnya data pendukung untuk memperkuat teori tersebut, melainkan juga karena suatau teori yang dikemukakan oleh para ulama cenderung hanya mempertimbangkan satu hal, sedangkan hal yang lain tidak.

Penyebaran Islam merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, tapi juga yang paling tidak jelas. Tampaknya, para pedagang muslim sudah ada di sebagian wilayah Indonesia selama  beberapa abad sebelum Islam menjadi agama yang mapan dalam masyarakat-masyarakat lokal. Kapan, mengapa, dan bagaimana konversi penduduk Indonesia ini mulai terjadi telah diperdebatkan oleh para ilmuwan. Tetapi, kesimpulan pasti tidak mungkin dicapai karena sumber-sumber yang ada tentang Islamisasi sangat langka dan sering sangat tidak informatif.

Secara umum, ada dua proses yang mungkin telah terjadi. Pertama, penduduk pribumi mengalami kontak dengan agama Islam dan kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing Asia (Arab, India, Cina, dll.) yang telah memeluk agama Islam tinggal secara tetap di suatu wilayah Indonesia, kawin dengan penduduk asli, dan mengikuti gaya hidup lokal sedemikian rupa sehingga mereka sudah menjadi orang Jawa, Melayu, atau suku lainnya.

Kedua proses ini mungkin sering terjadi bersama-sama. Dan, apabila sedikit petunjuk yang masih ada tadi menunjukkan, misalnya, bahwa suatu dinasti muslim telah berkedudukan mapan di suatu wilayah, maka seringkali mustahil untuk mengetahui mana yang lebih berperan di antara kedua proses itu.

Bukti yang paling dapat dipercaya mengenai penyebaran Islam dalam satu masyarakat lokal Indonesia adalah berupa Prasasti Islam (kebanyakan batu-batu nisan) dan sejumlah catatan para musafir, namun belum menunjukkan bahwa Negara-negara Islam lokal telah berdiri, tidak juga telah terjadi perpindahan agama dari penduduk lokal dalam tingkat yang cukup besar. Selain itu, Islam di nusantara juga menyajikan bukti-bukti dari dalam maupun dari luar mengenai sejarahnya, sama seperti tradisi keagamaan lainnya.

Peristiwa sejarah yang lebih jelas merupakan bagian dari rencana Tuhan kepada manusia merupakan bukti dari dalam, dan karena itu hampir seluruh kronik Asia Tenggara menggambarkan peristiwa-peristiwa gaib yang menyertai peralihan sebuah Negara menjadi Islam, namun perbedaan di antara jenis campur tangan Ilahiah itu tentu perlu pula diperhatikan.

Kronik-kronik ini tidak ragu menggambarkan kekuasaan para penguasa dan asal-usul Negara dengan menggunakan konsep kekuatan magis (kesaktian) yang berasal dari masa pra-Islam. Dalam tradisi Islam jawa dan tradisi Banjar yang menjadi turunannya, kita menemukan unsur-unsur kepercayaan pra-Islam secara lebih terang-terangan. Selain itu, terdapat sumber-sumber sejarah yang di dalamnya menjelaskan mengenai sejarah kedatangan Islam di Nusantara. Sumber-sumber itu berupa naskah-naskah dan cerita-cerita, seperti anekdot, primbon dan sebagainya.

Fungsi dari primbon adalah sebagai buku pedoman untuk memperhitungkan waktu baik dan buruk melaksanakan perhelatan serta upacara. Di daerah pedesaan pada abad ke-19 juga masih hidup aliran tradisional seperti Ratu Adilisme, Milenarisme, Nativisme, Revavilisme dan lain sebagainya. Dalam sejumlah artikel mengenai Sufisme atau Mistikisme di Asia Tenggara, A.H. Johns telah menunjukkan bahayanya menafsirkan Islamisasi hanya dalam pengertian politis atau perdagangan, dokumen-dokumen Melayu maupun Eropa menunjukkan bahwa masalah-masalah spiritual merupakan urusan kenegaraan yang juga penting bagi raja Melayu.


Terdapat berbagai sumber di Nusantara yang menjelaskan kedatangan dan penyebaran islam, sumber-sumber tersebut antara lain:

Babad Tanah Jawi


Babad Tanah Jawi merupakan judul umum yang mencakup sejumlah besar naskah berbahasa Jawa yang beraneka ragam susunan dan uraiannya, dan tak satu naskah pun terdapat dalam salinan dari masa sebelum abad XVII. Naskah-naskah ini menisbahkan sejarah tentang Jawa, peng-Islaman orang-orang jawa.

Menurut Hoesein Djajadiningrat, Babad Tanah Jawi di pilah menjadi tiga tahap, yaitu: Pertama, Zaman keraton Mataram dan masa sebelumnya sampai tahun 1677; selesai disusun oleh pangeran Adi Langu II, sesaat sesudah tahun 1705. Kedua, Zaman keraton Kartasura dari tahun 1677 sampai 1718; diselesaikan oleh Carik Bajra semasa pemerintahan Sunan Mangkurat IV (1718-1727). Ketiga, Zaman keraton Kartasura dari tahun 1718 sampai 1743; selesai sesudah tahun 1757 di bawah pemerintahan Sunan Pakubuwana III (1749-1792), sangat boleh jadi juga disusun oleh Carik Bajra.

Hikayat Raja-raja Pasai


Menceritakan raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan Pasai dan bagaimana agama Islam masuk di Sumatra, yang ditulis oleh Dulaurier. Selain itu menceritakan tentang batu nisan sultan yang pertama, Malik as-Salih, yang bertarikh 1297 M.

Babad Diponegoro


Ditulis oleh pangeran Diponegoro selama masa pembuangannya (1830-1855). Naskah ini dimulai dengan kisah manusia pertama, Adam, lalu kemudian dilanjutkan dengan sejarah tanah Jawa, kesultanan Yogyakarta, dan riwayat pangeran Diponegoro sendiri. Ditulis oleh Pangeran Diponegoro.

Sejarah Banten


Sejarah tanah jawa lainnya yang berisi cerita-cerita peng-islaman. Sebagian besar naskah kronik ini bertarikh akhir abad XIX, tetapi dua di antaranya merupakan salinan dari naskah asli yang ditulis pada tahun 1730-an dan 1740-an. Selain itu, buku ini menceritakan tentang kronik sistematis tentang generasi yang turun-temurun.

Babad Petjina


Sejarah jawa yang mengisahkan runtuhnya kraton Kartasurya oleh para pemberontak bangsa Cina dan para pengikutnya (1743).

Babad Gianti


Sejarah mengenai peperangan Surakarta dan Yogyakarta, dan pengalaman Mangkubumi dan pangeran Mangkunegara (1757-1796). Ditulis oleh Raden Ngabehi Jasadipura.

Hikayat Malaka


Mengisahkan pendiri kota itu oleh seorang petualang Jawa, tentang kedatangan bangsa Portugis serta pertempuran bangsa melayu melawan Albuquerque dan para komandan Portugis lainnya.

Hikayat Upu Daeng Menambon


Sejarah yang menceritakan tentang Riwayat pangeran Upu Daeng Menambon. seorang Raja Mempawah yang dikenal humanis dan menghargai keberagaman.

Hikayat Achi


Sejarah yang menceritakan tentang Aceh.

Hikayat Hang Tuah


Mengenai seorang pemimpin melayu selama pemerintahan raja Malaka yang terakhir; dan cerita tentang suatu delegasi melayu yang dikirim ke Mekkah dan Istambul untuk memohon bantuan melawan bangsa Portugis.

Sejarah Melayu


Merupakan naskah berbahasa Melayu selain Hikayat Raja-raja Pasai, yang menceritakan suatu kisah mengenai masuk Islamnya Raja Malaka. Selain itu, juga menjelaskan tentang penguasa malaka juga di Islamkan oleh Sayyid Abd Al-Aziz, sorang Arab dari Jeddah. Begitu masuk Islam penguasa itu Paraweswara, mengambil nama dan gelar sultan Muhammad Syah.

Babad Pasir (Naskah)


Sejarah tentang Banyumas, yang ditulis oleh J. Knebel, pada tahun 1900 M.

Hikayat Pahang


Keterangan tentang benda-benda kerajaan, upacara-upacara dan adat kebiasaan kerajaan Pahang, yang ditulis oleh Sir Richard Winstedt, pada tahun 1919 M.

Babad Cirebon


Sejarah yang menjelaskan tentang sejarah Cirebon. Yang ditulis oleh D.A. Rinkes (1911)

Babad Tawangaloen


Menjelaskan tentang kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu kuno kecil yang terletak di ujung timur Jawa (1932).

Sejarah Dalem


Menceritakan tentang sejarah para raja semenjak zaman nabi Adam hingga periode Keraton Yogyakarta.

Hikayat Merong Mahawangsa


Meriwayatkan bahwa seorang syaikh Abd Allah Al-Yamani datang dari Makkah ke Nusantara dan meng-Islamkan penguasa setempat, Merong Mahawangsa, para menterinya dan penduduk Keddah. Bicara mengenai sumber, telah diketahui bahwa layak atau tidaknya suatu proyek penulisan sejarah amat tergantung pada tersedianya sumber. Ini berlaku bagi penulisan sejarah lokal sebagai sejarah mikro. Sementara itu, untuk melakukan ekspansi sangat dibutuhkan alat-alat analitis yang canggih berupa konsep-konsep, teori, dan lain sebagainya.

Teori-teori tentang Islamisasi Nusantara


Ada banyak diskusi di kalangan para sarjana dan para peneliti tentang tiga pertanyaan mendasar yang berkaitan dengan perkembangan awal islam di kepulauan Melayu-Indonesia, yaitu sumber Islam atau dari mana datangnya, para pembawa islam pertama, dan waktu kedatangannya. Beberapa teori yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tampaknya tidak memberi jawaban yang meyakinkan bukan hanya karena kurangnya data pendukung untuk memperkuat teori tersebut, melainkan juga karena satu teori yang dikemukakan oleh mereka cenderung hanya mempertimbangkan satu hal, sedangkan hal lainnya tidak. Oleh karena itu, setiap teori nyaris gagal mengungkap kompleksitas dan kerumitan proses konversi dan Islamisasi. Tidak aneh kalau kemudian satu teori tertentu tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan menantang yang diajukan teori lain yang muncul sebagai teori tandingan.

Sejumlah peneliti dan sarjana, memegang teori bahwa asal-muasal Islam di nusantara adalah anak benua India, bukannya Persia atau Arabia. Para peneliti dan sarjana yang mengemukakan teori ini adalah:

Pijnappel, 1872 (Leiden, Belanda), dia mengkaitkan asal-muasal Islam di nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar dengan alasan bahwa orang-orang Arab bermazhab Syafi’i yang berimigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara pada abad ke-12 M.

Snouck Hurgronje
Snouck Hurgronje, 1924 (Leiden, Belanda), yang menyatakan bahwa asal-usul Islam di nusantara di kota pelabuhan Anak benua India pada abad 12 M. Sejumlah muslim Deccan banyak yang hidup di sana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan Nusantara. Kemudian mereka disusul orang-orang arab keturunan nabi Muhammad Saw. Karena menggunakan gelar Sayyid atau Syarif.

Moquette (didukung oleh beberapa ahli, yaitu: Kern, Winstedt, Bousquet, Vlakka, Gonda, Schrike dan Hall), 1912 (Leiden, Belanda). Yang menyatakan bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat, yang dibawa oleh para pedagang dari Gujarat sekitar ± abad 15 M. Ia mendasarkan pada persamaan bentuk batu nisan di Pasai dan di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik dengan batu nisan di Cambay, Gujarat. Dan persamaan batu nisan di Bruas, Pasai dan Gresik yang diduga impor dari Gujarat. 

Fatimi, 1963 (Pakistan), yang berargumen bahwa bentuk batu dan gaya batu nisan Malik Al-Shalih berbeda sepenuhnya dengan batu nisan yang terdapat di Gujarat dan batu-batu nisan lain yang ditemukan di Nusantara. Fatimi berpendapat, bahwa bentuk dan gaya batu nisan ini justru mirip dengan batu nisan yang terdapat di Bengal. Oleh karena itu, dia menyimpulkan bahwa asal-usul islam di kepulauan ini adalah daerah Bengal. Yang diiimpor oleh pedagang dari Bengal pada ± abad 11 M.

Marrison, 1951, berargumen meski batu-batu nisan yang ditemukan I tempat-tempat tertentu di Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat, tetapi itu tidak selalu berarti bahwa Islam juga dibawa dari sana ke kawasan ini. Kesimpulannya, Marrison mengemukakan teorinya  bahwa Islam diperkenalkan di kepulauan ini oleh para juru dakwah muslim dari Coromandel pada akhir abad ke-13.23

Arnold, Coromandel dan Malabar bukan satu-satunya asal Islam dibawa, tetapi juga di Arabia. Dalam pandangannya, para pedagang Arab juga menyebarkan Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad ke-7 dan ke-8 M. Hal ini diperjelas karena adanya persamaan Mazhab Fiqih (Syafi’i) dan sumber Cina yang menyebutkan bahwa adanya seorang pedagang Arab yang menjadi pimpinan pemukiman pada abad 7 M.  

Crawfurd, teori bahwa Islam juga dibawa langsung dari Arabia. Meskipun dia menyatakan bahwa interaksi penduduk Nusantara dengan kaum muslim yang berasal dari pantai timur India juga merupakan faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Keyzer, memandang Islam di Nusantara berasal dari Mesir atas dasar pertimbangan kesamaan kepemelukan penduduk muslim di kedua wilayah kepada mazhab Syafi’i.

Nienmann dan de Hollander, mereka menggunakan “Teori Arab” dengan sedikit revisi dan memandang bukan Mesir sebagai sumber Islam di nusantara, melainkan Hadhramaut. Sebagian ahli Indonesia setuju dengan “Teori Arab” ini. Dalam seminar pada tahun 1969 dan 1978 tentang kedatangan Islam ke Indonesia mereka menyimpulkan, Islam datang langsung dari Arabia, tidak dari India; tidak pada abad ke-12 atau ke-13 melainkan dalam abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 M.

Naguib Al-Attas, menentang “Teori India” tentang asal-usul Islam di Nusantara. Dia berpendapat bahwa bukti paling penting yang dapat dipelajari ketika mendiskusikan kedatangan Islam kepulauan nusantara adalah karakeritik internal Islam itu sendiri di kawasan ini. Dia menggagas hal yang dia sebut sebagai teori umum Islamisasi kepulauan Nusantara yang umumnya didasarkan atas sejarah literatur Islam Melayu dan sejarah pandangan dunia (worldview) Melayu-Indonesia sebagai mana yang dapat dilihat melalui perubahan konsep dan istilah kunci dalam literature Melayu, misalnya: Hikayat raja-raja Pasai, Sejarah Melayu, Hikayat Merong Mahawangsa, dll. Pada abad ke-10 sampai ke-11/ ke-16 sampai ke-17.

Schrike, dia menjelaskan bahwa asal-usul Islam di Nusantara karena Adanya perkawinan antara para pedagang Muslim dengan para keluarga bangsawan, dan adanya penguasa-penguasa daerah yang memeluk agama Islam pada abad ke-12 dan ke-13 M.

A.H. John, berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan adanya literature sejarah Melayu-Indonesia dan beberapa sejarah lokal yang dibawa oleh sufi pengembala pada abad ke-13 M.

Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Kedatangan Islam di Nusantara dan Proses Penyebarannya"