Follow me on Blogarama

main-nav-top (Do Not Edit Here!)

Tokoh-tokoh Filsafat Sejarah


Santo Augustinus

Biografi Santo Augustinus

Santo Augustinus dilahirkan pada tanggal 13 November 354 di Tegaste, Algeria, Afrika Utara. Agustinus lahir sekitar enam puluh mil dari kota hippo di Afrika Utara (di tepi pantai yang sekarang disebut Aljazair). Ayahnya bernama Patristius, seorang kafir. Ibunya Santo Monika, seorang Kristen yang saleh. Dia mendapat didikan Kristen dari ibunya. Sesudah itu ia membuang keyakinan Kristennya.

Tatkala berumur sebelas tahun, ia dikirim ke sekolah Madaurus, suatu sekolah tempat orang kafir, atau sebutlah lingkungan kafir. Lingkungan itu mempengaruhi perkembangan moral dan agamanya sementara ibunya mendoakan agar anaknya menerima ajaran Kristen. Pada musim panas tahun 386, setelah membaca riwayat hidup St. Antonius dari Padang Pasir yang sangat memukaunya, Agustinus mengalami suatu krisis pribadi yang mendalam dan memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Ia meninggalkan kariernya dalam retorika, melepaskan jabatannya sebagai seorang profesor di Milano, dan gagasannya untuk menikah (hal ini menyebabkan ibunya sangat terperanjat), dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Allah dan praktik imamat, termasuk selibat.

Santo Agustinus adalah salah seorang pelopor dalam sejarah filsafat di zaman abad pertengahan (abad 6-16) M. Sejarah filsafat abad ini sering disebut dengan zaman patristic dan zaman skolastik. Patristik berasal dari kata latin“patres” yang artinya “bapa-bapa gereja”. Ajaran kefilsafatannya menunjukkan adanya pengaruh dari zaman hellenisme. Mereka berusaha memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran dalam diri manusia. Sedangkan zaman Skolastik ditandai dengan diajarkannya filsafat pada sekolah-sekolah biara yang berisi tentang hubungan hakikat Tuhan, antropologi, etika dan politik.

Dalam menginjak dewasa, Santo Agustinus mulai berontak dan hidup liar. Sementara hatinya merasa gelisah, ia mencari-cari sesuatu yang dalam berbagai aliran kepercayaan untuk mengisi kekosongan jiwanya. Dalam autobiografinya yang berjudul Pengakuan-pengakuan (confessions), Agustinus melukiskan masa mudanya sebagai periode sensualitas yang memalukan dengan hasil menjadi ayah bagi seorang putra di luar nikah. Kejadian itu terjadi pada tahun 370, karena bantuan kawannya, Rommanius, ia pergi ke Kartago. Di sana ia tinggal bersama seorang guru wanita yang melahirkan anak untuknya yang bernama Adeodatus pada tahun 371. Agustinus mulai mencari solusi atas masalah keburukan. Agustinusmendapati dirinya sendiri sedang mencari suatu penjelasan tentang keburukan di dunia.

Solusi pertama yang menarik hatinya adalah ajaran para pemikir Manikean, para pengikut Mani (216-276 M). Doktrin utamanya adalah dunia ini adalah manifesti peperangan antara dua prinsip ilahi yang sangat kuat, yang satu adalah kebaikan, dan yang lainnya adalah keburukan. Dengan kata lain Manicheisme mengajarkan bahwa : permulaan alam ialah cahaya dan gelap. Cahaya berarti kebaikan dan keindahan, sedangkan gelap berarti keburukan; manusia berjiwa dua , jiwa tubuh yang berasal dari gelap (keburukan) dan jiwa cahaya (kebaikan).

Dibawah pengaruh Ambrosius dia masuk agama Kristen. Pada tanggal 25 April 387, Santo Augustinus dan anaknya dibaptiskan oleh uskup Ambrosius, ia memutuskan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan. Ia seorang Kristen yang taat. Setelah mengalami konversi , ia mengabdikan seluruh dirinya kepada Tuhan dam melayani pengikut-pengikutnya. Pada tahun 388 M ia kembali ke Afrika Utara. Pada tahun 391 ia menjadi pendeta di dekat kota Hippo.

Pada bulan Agustus tahun 430 terjadi peperangan yang menyebabkan kota Kartago dan Hippo jatuh ke tangan bangsa vandal. Akhirnya, pada tanggal 28 Agustus 430, Agustinus meninggal dunia dalam kesucian. Ide-ide Agustinus tidaklah berlalu begitu saja setelah ia wafat. Ia menjadi pilar utama tradisi kristen dan pengarunya sangat kuat hingga abad ke-19. Hanya pada seratus tahun terakhir ini saja pemikirannya dianggap asing, aneh, tidak biasa, dan tidak lazim, yang merupakan ciri masyarakat sekuler. Sejarah filsafat abad pertengahan diawali oleh masa Patirstik. Masa ini diisi oleh para pujangga kristen dari abad-abad pertama kekristenan. Mereka berupaya meletakkan dasar intelektual bagi agama Kristen.

Teori Gerak Sejarah Menurut Santo Augustinus 


Hakikat teori sejarah adalah suatu gerak yang tumbuh dan berkembang secara revolusi, karena menggambarkan peristiwa sejarah masa lampau secara kronologis. Urutan secara kronologis merupakan pokok teori untuk menggambarkan gerak sejarah.

Sejarah menurut St. Augustinus adalah perjuangan antara dua unsur yang saling bertentangan, yang baik dan yang buruk hal ini tidak terlepas dari pengalaman hidup yang terurai dari biografi Santo Agustinus yang saya jelaskan di biografi di atas. Teori gerak sejarah menurut St. Augustinus ditentukan oleh kehendak Tuhan. Hukum alam menjadi hukum Tuhan, kodrat alam menjadi kodrat Tuhan, Tuhan menentukan takdir, manusia menerima nasib. Gerak manusia bersifat pasif karena segala sesuatunya ditentukan oleh Tuhan.

Agustinus tidak mempercayai bahwa sejarah adalah suatu siklus. Sejarah lebih dari itu; ia merupakan kejadian yang diatur oleh Tuhan. Jadi, sejarah sebenarnya mempunyai suatu permulaan dan mempunyai akhir.

Sejarah sebagai wujud kehendak Tuhan ialah bahwa manusia tidak bebas menentukan nasibnya sendiri. Ia menerima nasib dari Tuhan, apa yang diterima sebagai kehendak Tuhan. Tuhan sudah menentukan perjalanan hidup yang sudah ditentukan Tuhan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tuhan sudah menentukan perjalanan hidup manusia dan alam, manusia tidak dapat mengubah garis hidup yang sudah ditentukan. Bagi alam fikiran Yunani manusia menerima segala sesuatu dengan amor fati (gembira), bagi alam kodrat ilahi pemberian Tuhan diterima dengan fiat voluntas tua (kehendak Tuhan terlaksanalah). 

Santo Augustinus menerangkan bahwa tujuan gerak sejarah ialah terwujudnya kehendak Tuhan dalam civitas dei atau kerajaan tuhan. Civitas dei merupakan tempat manusia pilihan Tuhan yang menerima ajaran Tuhan dan yang menolaknya akan ditampung didalam civitas diaboli (kerajaan setan) atau neraka. Selanjutnya ia mengajarkan bahwa hakikat sesungguhnya kehidupan adalah penembusan dosa. Seperti yang ia singgung dalam bukunya “The City of God” bahwasannya Adam sebelum kejatuhannya pernah memilki kehendak bebas dan bisa terbebas dari dosa. Namun karena dia dan hawa memakan buah apel maka kerusakan pun merasuki mereka dan terwariskan kepada seluruh anak keturunannya, sehingga tak seorang pun dari mereka yang bisa terbebas dari dosa, kecuali berdasarkan upaya mereka sendiri. Oleh karena itu St. Augustinus mengatakan bahwa hakikat kehidupan manusia di bumi ini hanyalah sebuah penebusan dosa yang dilakukan oleh adam dan hawa terdahulu.

Zaman lampau sebagai perwujudan kehendak Tuhan adalah cermin atau hikmah untuk mengetahui kodrat ilahi. Zaman yang akan datang adalah medan perjuangan untuk mendapatkan tempat di Civitas Dei. Maka perikehidupan manusia ditujukan kepada Civitas Dei, kepada akhirat; kecemasan dan ketakutan meliputi seluruh alam pikiran itu, apakah nasib yang akan diterima kelak??? Fiat voluntas tua – kehendak Tuhan terlaksanalah! Manusia menyerah kepada kehendak Tuhan, ia menerima segala sesuatu . menyerahkan nasib kepada gereja.

Ibnu Khaldun 

Biografi Ibnu Khaldun

Wali al-DinAbdurrahman bin Muhammad ibn Hasan ibn Jabir ibn Muhammad ibn Ibrahimibn Abdurrahman ibn Khaldun atau yang dikenal sebagai Ibnu Khaldun lahir di Tunisia - Afrika Utara pada 1 Ramadhan 732 H/27 Mai 1332 M dan meninggal di Kairo pada tahun 808/1406 M. Beliau hidup pada abad ke-14 Masihi yaitu ketika umat Islam mengalami zaman kemunduran dan perpecahan Sedangkan Eropah mengalami kebangkitan zaman Renaissans. Kemunduran yang dimaksudkan disini ialah berlakunya perpecahan dikalangan umat Islam dengan mazhab dan juga perpecahan dikalangan kaum Barbar, setengahnya mendukung pemerintahan al-Murabitin dan ada juga yang mendukung kerajaan al-Muwahhidun.

Ia dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas.

Pemikiran-pemikirannya yang cemerlang mampu memberikan pengaruh besar bagi cendekiawan-cendekiawan Barat dan Timur, baik Muslim maupun non-Muslim. Dalam perjalanan hidupnya, Ibnu Khaldun dipenuhi dengan berbagai peristiwa, pengembaraan, dan perubahan dengan sejumlah tugas besar serta jabatan politis, ilmiah dan peradilan. Perlawatannya antara Maghrib dan Andalusia, kemudian antara Maghrib dan negara-negara Timur memberikan hikmah yang cukup besar. Ia adalah keturunan dari sahabat Rasulullah saw. bernama Wail bin Hujr dari kabilah Kindah.

Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara) yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul oleh generasi kedua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya.

Teori Gerak Sejarah Ibnu khaldun 

Gerak sejarah menurut Khaldun tidaklah berupa lingkaran dan dari garis yang lurus (linier), tetapi berbentuk spiral. Pola sejarah Khaldun mirip dengan pola Spengler dan Pola Toynbee.

Khaldun mengungkapkan bahwa teori kebudayaan bersifat siklus. Sehingga Khaldun beranggapan bahwa dalam sejarah manusia pola yang berlaku adalah siklus. Pola Spiral merupakan itegrasi dari pola siklus dan pola linear. Menurut konsep ini pola sejarah disamping menunjukkan pengulangan juga terus bergerak maju, tidak berputar di tempat. Disini doktrin kesinambungan dan perubahan bergabung menjadi satu dalam pola tersebut. dengan kata lain, menurut konsepsi ini, umat manusia cukup kreatif dalam menciptakan hal-hal yang ada dalam perjalanan sejarah. 

Pola spiral yang dikemukakan Khaldun, misalnya negara, bahwa setiap kali negara mencapai klimak kejayaannya, seiring itu pula akan memasuki masa senja dan mulai mengalami keruntuhan untuk digantikan oleh negara lain yang baru. Kemudian negara baru itu tidaklah mulai dari nol, tetapi dengan mengambil sebagian dari peninggalan, warisan, dan tradisi negara yang lama. Negara baru itu melengkapinya, menciptakan kebudayaan yang lebih maju dan berbeda dari negara sebelumnya. Meskipun memang pada mulanya perbedaannya tidak begitu kontras, namun lama kelamaan sama sekali kontras.

Gerak perkembangan menurut Khaldun berarti gerak ke depan dan tak terbatas, serta selalu bertujuan pada kerentanan dan kerusakan. Oleh karenanya, berdasarkan pada contoh negara diatas, sejarah itu merupakan kisah negara-negara yang muncul, tumbuh dan hancur. Kehancuran itu sendiri merupakan sesuatu yang pasti dan satu-satunya hal yang dapat terhindar dari kehancuran adalah perkembangan.

Selanjutnya dalam pandangan Ibn Khaldun ada tiga faktor dominan yang mempengaruhi dan mengendalikan perkembangan perjalanan sejarah dari waktu ke waktu. Pertama, faktor ekonomi. Menurut Ibn Khaldun kegiatan ekonomi menentukan bentuk kehidupan. Perbedaan agama seseorang bisa lahir karena penghidupan, keadaan dan waktu. Kegiatan ekonomi menjadi salah satu yang terpenting dalam mengendalikan kehidupan sosial, politik, moral masyarakat dan pikiran mereka. Kedua, faktor geografis, lingkungan dan iklim. Pengaruh geografi misalnya orang yang menempati kawasan yang kaya hasil bumi, biasanya cenderung malas-malasan dan pengaruhnya mereka akan malas serta lamban dalam berpikir. Sedangkan orang yang menempati kawasan yang miskin hasil bumi, cenderung rajin dalam bekerja karena makanannya terbatas tetapi minda mereka lebih tajam. Ketiga, faktor agama. Ibn Khaldun meyakini adanya pengaruh dan pengarahan Tuhan terhadap segala yang terjadi. Ia berkesimpulan bahwa hubungan antara Tuhan dan manusia wujud pada setiap ruang dan masa. Alam dan seisinya dibagikan kepada manusia sebagai khalifah-Nya. Sisi inilah yang membuktikan bahwa Ibn Khaldun merupakan seorang pemikir dan ahli Filsafat sejarah Islam. Ia mampu menghubungkan antara ekonomi, alam dan hukum determinisme dalam sejarah.

Karl Marx

Biografi Karl Marx

Karl Heinrich Marx (1818-1883) adalah filosof jerman yang pemikirannya telah menjadi inspirasi dasar “Marxsisme” sebagai ideologi perjuangan kaum buruh, yang menjadi komponen inti dari ideologi komunisme pemikiran Marx juga telah menjadi salah satu rangsangan besar bagi perkembangan sosiologi, ilmu ekonomi dan filsafat kritis. Pemikiran Mark tidak hanya tinggal diam di wilayah teori, melainkan ideologi yang dikenal ideologi Marxisme dan komunisme. Ideologi ini dalam sejarah telah menjadi kekuatan social politik. Dalam sejarah filsafat barat hanya Marx yang mengembangkan sebuah pemikiran yang pada dasar filosofis namun kemudian menjadi teori perjuangan gerakan pembebasan. Motor perubahan dan perkembangan menurut Karl Marx adalah pertentangan antara kelas-kelas social, bukan oleh individu-individu tertentu. Maka menurut Marx tidak tepat jika sejarah di panadang sebagai sebuah tindakan raja-raja atau orang-orang besar lainnya.

Apa yang di putuskan dan di usahakan oleh orang-orang besar yang dikenal dari buku-buku sejarah popular, meskipun tidak pernah tanpa kepentingan atau cita-cita. Dalam garis besarnya selalu akan bergerak dalam rangkah kepentingan kelas mereka serta mencerminkan struktur kekuasaan kelas-kelas dalam masyarakat yang bersangkutan.

Tiga tahap filsafat sejarah Marx menggambarkan pola “satu langkah kebelakang, dua langkah ke depan”. Komunitas-komunitas primitive harus dihancurkan terlebih dahulu sebelum satu komunitas bisa dibuat lagi pada tingkat yang lebih sempurna. Materialism histories menekankan bahwa tahap-tahap berurutan dalam penghancuran ini juga sebagai tenggang waktu. Ketika para produsen dengan cepat terpisah dari sarana-sarana produksi mereka, maka kerja mereka semakin produktif. Pemisahan ini berlangsung sangat ekstrim dalam kapitalisme yang notabene juga salah satu tahap dimana perkembangan kekuatan-kekuatan produksi mencapai tingkat yang paling tinggi.

Marx membedakan fase perkembangan masyarakat:

  • Tahap pertama: Adalah masyarakat komunal primitive sebelum pembagian kerja dimulai.
  • Tahap kedua yang masih berlangsung: Adalah tahap pembagian kerja sekaligus tahap kepemilikan hak pribadi dan hak keterasingan.
  • Tahap ketiga: Adalah tahap kebebasan yaitu apabila hak milik pribadi telah dihapus. 
Jadi sistem hak milik pribadi bukan sebuah “kecelakaan” melainkan tahap yang pasti dalam perjalanan umat manusia ke tahap kebebasan. Tahap milik pribadi tidak dapat dihindari karena pembagian kerja juga tidak bisa dihindari. Hanya melalui pembagian kerja umat manusia dapat menjamin keberlangsungan hidupnya. Maka meskipun keterasingan manusia dinilai negative, tetapi keterasingan tersebut merupakan tahap yang harus dilalui oleh umat manusia.

Menurut Marx masyarakat masa depan yang di idealkan adalah komunisme. Seperti yang dikutip oleh Fromm dalam manuskrip II, Marx menegaskan bahwa: komunisme merupakan penghapusan kepimilikan pribadi secara positif yang merupakan apresrasi nyata dari watak manusia yang melalui dan untuk manusia. Komunisme pengembalian manusia sebagai makhluk social yaitu pengembalian yang lengkap dan sadar yang mencampurkan semua kekayaan dan perkembangan sebelumnya. Komunisme sebagai naturalism yang paling maju adalah humanism, dan humanism yang paling maju adalah naturalism. Tentang struktur nama yang mendukung atau memajukan kebebasan tindakan mereka semua.

Sejarah dalam pandangan Karl Marx bersifat progress/linier, disebutkan dalam manifesto komunis bahwa sejarah umat manusia dulu dan kini adalah merupakan sejarah pertentangan kelas dimana motor perubahan dan perkembangan masyarakat adalah pertentangan kelas. Fase perkembangan sejarah masyarakat menurut Marx dimulai dari masyarakat komunal primitive, masyarakat feudal, masyarakat yang sistemnya kapitalisme, masyarakat sosialis dan terakhir adalah masyarakat komunis.

Istilah sejarah mengacu pada Hegel sebagai proses dialektis diterima Marx. Akan tetapi terdapat perbedaan pengertian. Sejarah dalam pengertian Marx adalah perjuangan kelas-kelas untuk mewujudkan kebebasan, bukan perihal perwujudan dari Roh, bukan pula tesis-anti esis Roh Subjektif- Roh Objektif melainkan menyangkut kontradiksi-kontradiksi hidup dalam masyarakat terutama dalam kegiatan ekonomi dan produksi.

Begitu pula dengan kesadaran dan cita-cita manusia ditentukan oleh keadaannya dalam masyarakat dalam hal ini kedudukannya dalam kelas social. Sebagai contoh kaum buruh (kelas proletar) ketiadaan kepemilikan alat-alat produksi membuat buruh secara historis terpaksa tidak punya banyak pilihan bertindak. Tujuan dan kegiatan historisnya telah digariskan dalam keadaan hidupnya yang “bergantung” dari kemauan kelas pemilik alat-alat produksi. Karena keadaan ini, cara produksi menentukan cara manusia berpikir. Dalam hal ini, cara berpikir buruh karena tergantung pada kelas atas adalah bagaimana untuk bertahan hidup (survive). Saedangkan pada kelas atasnya adalah untuk menguasai sebanyak-banyak alat produksi. Dalam hal tersebut dpat ditarik beberapa hal. Pertama, cara berproduksi menentukan adanya kelas-kelas social. Kedua, angota dalam kelas menentukan kepentingan orang. Ketiga, kepentingan menentukan apa yang dicita-c itakan, apa yang dianggap baik bukuk. Jadi, keadaan menentukan cita-ita dan kesadaran, maka bagi Marx, hidup rohani, agama, moralitas, nilai-nilai budaya, dll bersifat sekunder. Hal tersebut bersifat primer karena hanya mengungkapkan keadaan primer, struktur kelas masyarakat dan pola produksi.

Oswald Spengler

Biografi Oswald Spengler 

Oswald Spengler lahir di Blankenburg (Harz) di Jerman Tengah pada tahun 1880, anak tertua dari empat anak, dan satu-satunya anak laki-laki. Ayahnya, yang semula teknisi pertambangan dan berasal dari garis panjang mineworkers, adalah seorang pejabat di pos Jerman birokrasi, dan ia memberikan keluarganya dengan sederhana namun nyaman di rumah kelas menengah.

Ketika ia berusia sepuluh tahun keluarganya pindah ke kota universitas Halle. Spengler menerima pendidikan Gymnasium klasik, mempelajari bahasa Yunani, Latin, matematika dan ilmu alam. Disini juga ia mengembangkan afinitas kuat untuk seni – khususnya puisi, drama, dan musik.

Spengler pada umur 21 tahun. Spengler mempelajari bidang studi budaya klasik, matematika, dan ilmu-ilmu fisik. Pendidikan universitasnya sebagian besar dibiayai oleh sebuah warisan dari almarhum bibi. Ia gagal dalam ujian pertamanya, tetapi ia lulus di ujian kedua pada tahun 1904 dan kemudian ia menulis disertasi sekunder yang diperlukan untuk memenuhi syarat sebagai guru sekolah tinggi. Kemudian ia pindah ke Düsseldorf dan akhirnya ke Hamburg. Dia mengajar matematika, fisika, sejarah dan sastra jerman.

Dia menetap di Munich, di sana untuk menjalani kehidupan sarjana yang independen / filsuf. Dia mulai menulis sebuah buku pengamatan politik. Awalnya untuk menjadi berjudul Konservatif dan Liberal, itu direncanakan sebagai sebuah eksposisi dan penjelasan tentang tren saat ini di Eropa – yang mempercepat perlombaan senjata, Entente “pengepungan” di Jerman, sebuah suksesi krisis internasional, meningkatkan polaritas dari bangsa-bangsa – dan mana mereka memimpin. Namun pada akhir 1911 ia tiba-tiba tersentak oleh gagasan bahwa peristiwa hari hanya dapat ditafsirkan dalam “global” dan “total-budaya” istilah. Dia melihat Eropa sebagai berbaris pergi untuk bunuh diri, langkah pertama menuju kematian terakhir budaya Eropa di dunia dan dalam sejarah. Dengan memnanfaatkan pendekatan physiogmatic, Spengler yakin akan kemampuannya untuk memecahkan teka-teki sejarah.

Teori Gerak Sejarah Oswald Spengler 

Jiwa dari teori-teori sejarah beranggapan bahwa sejarah itu merupakan suatu gerak yang tumbuh dan berkembang secara evolusi atau perubahan secara alami. Dalam proses evolusi sejarah, peran manusia sangat menentukan sekali. Bahkan, manusia menjadi inti masalah dari gerak sejarah itu sendiri. Oleh karena manusia eksistensinya begitu kompleks, maka para sejarawan berbeda pendapat dalam menentukan gerak sejarah. Menurut Ankersmit, umumnya terdapat tiga hal yang menjadi kajian filsafat sejarah spekulatif, yaitu pola gerak sejarah, motor yang menggerakkan proses sejarah, dan tujuan gerak sejarah.

Karya Oswald Spengler yang berpengaruh adalah Der Untergang des Abendlandes (Decline of the West) atau Keruntuhan Dunia Barat/Eropa. Spengler meramalkan keruntuhan Eropa. Ramalan itu didasarkan atas keyakinan bahwa gerak sejarah ditentukan oleh hukum alam. Dalil Spengler ialah bahwa kehidupan sebuah kebudayaan dalam segalanya sama dengan kehidupan tumbuhan, hewan, manusia dan alam semesta. Persamaan itu berdasarkan kehidupan yang dikuasai oleh hukum siklus sebagai wujud dari fatum. Hukum itu tampak pada siklus: pagi, siang, sore, malam.

Tiap-tiap masa pasti datang menurut waktunya, itulah keharusan alam yang mesti terjadi. Seperti halnya historical materialism, paham Spengler tentang kebudayaan pasti runtuh apabila sudah melewati puncak kebesarannya. Oleh sebab itu keruntuhan suatu kebudayaan dapat diramalkan terlebih dahulu menurut perhitungan. Suatu kebudayaan mendekati keruntuhan apabila kultur sudah menjadi Civilization (kebudayaan yang sudah tidak dapat tumbuh lagi). Apabila kultur sudah kehilangan jiwanya, maka daya cipta dan gerak sejarah akan membeku.

Gerak sejarah tidak bertujuan sesuatu kecuali melahirkan, membesarkan, mengembangkan, meruntuhkan kebudayaan. Spengler menyelidikinkebudayaan Barat dan setelah membandingkan kebudayaan Barat dengan sejarah kebudayaan-kebudayaan yang sudah tenggelam, ia berkesimpilan:

a. Kebudayaan Barat sampai pada masa tua (musim dingin), yaitu civilization

b. Sesudah civilization itu kebudayaan Barat pasti akan runtuh

c. Manusia Barat harus dengan bersikap berani menghadapi keruntuhan itu

d. Mempelajari sejarah tujuannya ialah untuk mengetahui suatu kebudayaan didiagnose seperti seorang dokter menentukan penyakit si penderita. Nasib kebudayaan dapat diramalkan, sehingga untuk seterusnya kebudayaan itu dapat menentukan sikap hidupnya.

Arnold J. Toynbee

Biografi Arnold J. Toynbee 

Toynbee yang bernama lengkap Arnold Joseph Toynbee lahir di London, Inggris pada tanggal 14 April tahun 1889. Ia merupakan sejarawan besar yang menulis buku monumental yang mengulas tentang peradaban manusia, A Study of history sejumlah 12 jilid antara tahun 1934-1961 yang menuliskan tentang sebuah metahistory yang ada dalam peradaban yang mencakup kemunculan, pertumbuhan dan kehancurannya. Toynbee merupakan kemenakan dari seorang sejarawan terkenal Arnold Toynbee, di mana namanya dengan sang paman sering salah digunakan karena kemiripan nama. Dia menamatkan studinya di Winchester College dan Baliol College di Oxford Inggris kemudian pada British Archaeological School di Athena Yunani. Ia memulai karir sebagai pengajar di Balliol pada tahun 1912, dan kemudian menjadi pengajar di King’s College, London kemudian sebagai Profesor sejarah Modern Yunani dan Binzantium, menjadi guru besar sejarah internasional di Universitas London pada 1925-1946, serta pada London School Economics dan di Royal Institute of International Affairs (RIIA) di Chatam House. Kemudian ia menjadi pemimpin dari RIIA pada tahun 1925-1955 (Ekayati, 1996). Dia bekerja pada departemen Ilmu Pengetahuan di Departemen Luar Negeri Inggris dan pada saat perang dunia pertama berlangsung dan kemudian menjadi delegasi pada Paris Peace Conference pada tahun 1919 dan pada 1946 menjadi delegasi untuk acara yang sama. Bersama dengan asisten penelitinya, Veronica M. Boulter, yang kemudian nantinya menjadi istri keduanya, dia menjadi co-editor Survey of International Affairs yang diadakan RIIA. Pada saat perang dunia kedua, dia kembali bekerja di departemen luar negeri dan menjadi pembicara pada seminar tentang perdamaian.

Kehidupan pribadinya, ia menikah dengan rosalind Murray, purti dari Gilbert Murray dan dikaruniai tiga orang putera. Namun mereka bercerai, dan kemudian Toynbee menikah dengan Veronica M. Boulter pada tahun 1946. Toynbee meninggal pada 22 Oktober 1975.

Pemikiran Arnold J Toynbee 

Antara pemikiran Toynbee dan Spengler ada semacam kesamaan, yaitu tentang gerak dari sejarah atau peradaban itu sendiri dan pendekatan yang digunakan. Apabila Spengler menyatakan bahwa kehancuran adalah layaknya organisme yang pasti terjadi dan tidak bisa ditahan, maka Toynbee menyatakan bahwa kehancuran bisa ditahan. Selain itu, ia menolak paham Spengler yang deterministik yang menggambarkan bahwa peradaban timbul dan tenggelam sebagai sebuah siklus yang mengikuti kehendak alam.

Pemikiran Toynbee tentang peradaban adalah bahwa peradaban selalu mengikuti alur mulai dari kemunculan sampai kehancuran. Teori Toynbee ini senada dengan hukum siklus. Artinya ada kelahiran, pertumbuhan, kematian, kemudian disusul dengan kelahiran lagi, dan seterusnya. Pemikiran Toynbee ini senada dengan teori yang berkembang di Yunani pada masa pra-Socrates.

Mengacu pada pemikiran Toynbee tentang terbentuknya gereja universal, munculnya penyelamat atau Al Mahdi, pernyataan bahwa peradaban adalah “tangan pelayan” dari agama, dan fungsi historis peradaban adalah sebagai batu loncatan menuju wawasan keagamaan maka secara tidak langsung pemikiran ini senada dengan pemikiran para pemikir patristik, seperti St Augustinus. Lebih lanjut lagi Toynbee menyatakan bahwa keruntuhan kebudayaan bisa dihentikan. Upaya menghentikan keruntuhan kebudayaan/peradaban yang mungkin berhasil ialah dengan penggantian segala norma-norma kebudayaan dengan norma-norma ketuhanan (Ali, 1961:85-87). Lebih lanjut lagi, ia menyatakan bahwa dengan penggantian itu, tampaklah pula tujuan gerak sejarah ialah kehidupan ketuhanan, atau dengan bahasan yang lebih konkret adalah Kerajaan Allah. Mengenai pandangan ini Ali menyatakan bahwa teori Toynbee merupakan muara teori Augustinus, yatu Civitas Dei. (Purnomo, 2003:38; Ali, 1961:85-87).

Gianbattista Vico

Biografi Gianbattista Vico

Giovanni Battistan (Giambattista) Vico atau Vigo (23 Juni 1668- 23 Januari 1744) adalah seorang filusuf politik Italia, ahli pidato, sejarawan, dan ahli hokum. Seorang kritikus rasionalisme modern dan apologis kuno klasik, Vico magnum opus adalah Principi di Scienza Nouva d’Natura intorno alla Comune delle Nazioni, sering diterbitkan dalam bahasa inggris sebagai Ilmu Baru, yang dapat harfiah diterjemahkan sebagai “prinsip / Asal Usul Baru / pembaruan ilmu tentang / sekitarnya sifat umum dari bangsa”. Karya ini secara eksplisit disjikan sebagai “ilmu penalaran” (Scienza di regionare), dan termasuk dialetika antara aksioma. Vico sering diklaim sebagai filosof yang memiliki filsafat sejarah modern, meskipun istilah ini tidak ditemukan dalam teks (Vico berbicara tentang suatu “sejarah filsafat di riwayatkan filosofis”). Lahir penjual buku dan putri seorang pembuat kereta di Neples, Itali, Vico menghadiri serangkaian sekolah tata bahasa, tapi sakit dan ketidakpuasan dengan skolastik Yesuit menyebabkan ia memilih home schooling.

Setelah serangan tifus pada 1686, Vico menerima posisi les di Vatolla (sebuah Farazione dari pemerintah ataupun dari Perdifumo), selatan salerno, yang akan berlangsung selama Sembilan tahun. Pada 1699, ia menikah dengan teman masa kecil, Teresa destito, dan menganbil kursi dalam retorika di Universitas Naples. Pada tahun 1734, ia diangkat penulis sejarah kerajaan oleh Charles III, raja Naples, dan diberikan gaji yang jauh melebihi yang dari jabatan professor. Vico mempertahankan kursi retorika sampai sakit, kesehatannya memaksanya untuk pension pada 1741.

Fisafat Sejarah Giambattista Vico 

Giambattista Vico seorang filosof sejarah dan sosial yang hidup di Italia pada akhir abad ketujuh belas dan permulaan abad kedelapan belas. Nama filosof sejarah Italia ini memang jarang dikenal, padahal jasanya begitu besar terutama dalam teorinya tentang gerak sejarah ibarat daur cultural spiral yang dimuat dalam karyanya The New Science (1723) yang telah diterjemahkan Down tahun 1961. Secara makro pokok-pokok pikiran Vico yang tertuang dalam teori daur spiralnya dalam The New Science tersebut sebagai berikut: 
Perjalanan sejarah bukanlah seperti roda yang berputar mengitari dirinya sendiri sehingga memungkinkan seseorang filosof meramalkan terjadinya hal yang sama pada masa depan. 
Sejarah berputar dalam gerakan spiral yang mendaki dan selalu memperbaruhi diri, seperti gerakan pendaki gunung yang mendakinya melalui jalan melingkar ke atas di mana setiap lingkaran selanjutnya lebih tinggi dari lingkaran sebelumnya, sehingga ufuknya pun semakin luas dan jauh. 

Masyarakat manusia bergerak melalui fase-fase perkembangan tertentu dan terjalin erat dengan kemanusiaan yang dicirikan oleh gerak kemajuan dalam tiga fase yaitu; lfase telogis, fase hirois, dan fase humanistis. 

Ide kemajuan adalah substansial, meski tidak melalui satu perjalanan lurus ke depan, tetapi bergerak dalam lingkaran-lingkaran histories yang satu sama lain saling berpengaruh. Dalm setiap lingkaran pola-pola budaya yang berkembang dalam masyarakat, baik agama, politik, seni, sastera, hokum, dan filsafat saling terjalin secara organis dan internal, sehingga masing-masing lingkaran itu miliki corak cultural khususnya yang merembes ke dalam berbagai ruang lingkup kulturalnya (Colingwodd, 1956: 67). 

Vico mempercayai adanya kemajuan, tetapi setelah sampai pada puncaknya, sejarah berulang lagi.karena itu teorinya merupakan gabungan antara pandangan sejarah linier dengan cyclus. Menurut Vico, sejarah kemanusiaan bisa diletakkan dibawah interpretasi ilmiah yang teliti. Ia, dalam karyanya The New Science, berupaya menguraikan sebab-sebab terjadinya perubahan cultural yang menimpa masyarakat manusia. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa masyarakat manusia melalui fase-fase pertumbuhan, perkembangan, kehancuran tertentu. Sebab “di antara watak manusia ialah timbulnya gejala-gejala itu di bawah kondisi-kondisi tertentu dan sesuai dengan system-sistem tertentu. Jadi setiap kali kondisi-kondisi itu terpenuhi, maka gejala-gejala itu pun akan timbul.”

Selain itu Vico berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat manusia melalui berbagai lingkaran cultural, di mana masyarakat-masyarakat itu beralih dari kehidupan barbar ke kehidupan berbudaya atas tuntutan Ilahi yang memelihara wujud. Namun, cirri yang mewarnai teori Vico tentang sejarah ialah keyakinannya bahwa berbagai aspek kebudayaan suatu masyarakat dalam vase mana pun dari sejarahnya membentuk pola-pola sama yang saling berkaitan satu sama lainnya secara substansial dan esensial. Jadi, apabila dalam suatu masyarakat berkembang suatu aliran seni atau keagamaan tertentu, maka berkembang pula bersamanya pola-pola tertentu dari system-sistem politik, ekonomi, hokum, pikiran dan sebagainya. Teori Vico ini mempunyai dampak yang jelas terhadap banyak filosof sejarah setelahnya, seperti Herder, hegel, dan Karl Marx, semuanya menurut cara masing-masing.

Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Tokoh-tokoh Filsafat Sejarah"