Follow me on Blogarama

main-nav-top (Do Not Edit Here!)

Memahami Pemikiran Radikal dalam Syi'ah, Qarmathiyyah dan Hasyasyin

Seiring berjalannya waktu, Islam tumbuh dengan berbagai perkembangan. Setiap hal tidaklah lepas dari suatu konflik yang menyertainya. Lebih runcing lagi, permasalahan itu banyak timbul setelah wafatnya nabi. Diantara masalah tersebut timbul akibat dari suatu permasalahan dalam perebutan siapa yang berhak untuk menggantikan nabi sebagai khalifah umat Islam selanjutnya.

Karena suatu perdebatan tentang siapa yang berhak dan pantas untuk menggantikan Nabi, munculah berbagai firqoh politik umat Islam. Salah satu diantaranya adalah kelompok Syi’ah yang pada makalah ini akan sedikit lebih diuraikan mengenai pemikiran-pemikiran serta gerakannya. Pemikiran Syi’ah tidak hanya terikat pada bidang politik saja melainkan juga menyangkut masalah-masalah yang dalam bidang-bidang dalam perkembangan umat Islam, seperti misalnya hukum Islam.

Masalah kepemimpinan umat, sebagai pengganti Rasulullah adalah masalah yang pertama kali muncul dan menimbulkan pertentangan yang hebat diantara kaum muslim serta menjadikan salah satu cobaan dalam persatuan umat Islam. Berawal dari  pergolakan politik Ustman bin Affan yang ditandai dengan pecahnya perang saudara antara khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Siti Aisyah di satu pihak dan antara Ali bin Abi Thalib dilain pihak. Perselisihan ketiga kubu tersebut melahirkan kelompok baru yang yang mengarah pada munculnya golongan-golongan dengan mempercayai suatu doktrin masing-masing yang dianutnya.

SYI’AH



Pengertian dan asal-usul Syi’ah


Dalam arti bahasa, Syiah adalah pengikut, pendukung, partai, atau  kelompok. Sedangkan dalam arti terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang-bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturuna Nabi Muhammad SAW.  Dalam  pandangan Syi’ah bahwasannya segala hal yang berhubungan dengan agama harus didasarkan pada sumber dari ahl al-bait.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan munculnya Syi’ah dalam sejarah. Menurut Abu Zahra, Syiah muncul ketika berakhirnya pemerintahan Ustman bin Affan kemudian berkembang hingga pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Menurut Watt, Syiah muncul pada  saat setelah terjadinya perang Siffin dimana pihak yang setuju dengan sikap Ali menerima abritase yang ditawarkan Muawiyah kemudian disebut Syi’ah dan pihak yang menolak sikap Ali kemudian disebut Khawarij.

Dalam pandangan kaum Syiah, kelompoknya tersebut muncul karena adanya permasalahan dalam pergantian khilafah Nabi SAW.  Mereka menolak dipilihnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar bi Khattab, dan Usman bin Affan karena mereka menganggap bahwa yang berhak menggantikan Nabi hanyalah Ali bin Abi Thalib karena beliau memiliki hubungan keluarga dengan Nabi. Diceritakan dalam  peristiwa Ghadir Khumm bahwa ketika dalam perjalanan pulang dari haji terakhir, nabi memilih Ali sebagai penggantinya dan juga sebagai pelindung (wali) para umat. Tetapi kenyataannya berbeda.

Dalam bukunya, Harun Nasution yang berjudul Ensiklopedi Islam Indonesia dijelaskan bahwa ketika keluarga dan sahabat tengah sibuk mengurus pemakaman nabi, terdapat kelompok lain berkumpul di masjid guna memilih pimpinan  kaum  muslimin dengan tanpa adanya kesepakatan dari ahlul bait, keluarga, ataupun para sahabat. Dari kejadian itulah timbul suatu ketegangan di sebagian kalangan sebagai akibat penolakan hal tersebut. Mereka tetap bersikukuh bahwa pengganti Nabi dan penguasa keagamaan yang sah adalah Ali.

Juga terdapat pendapat lagi mengenai timbulnya kalangan Syi’ah. Para ahli berpegang teguh pada sejarah perpecahan dalam Islam yang dimulai pada waktu yang paling momentum yaitu pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib saat terjadinya perang Shiffin, dimana perang shiffin terjadi antara kubu Muawiyah dan Ali bin Abi thalib yang merebutkan gelar khalifah sebagai pengganti Usman bin Affan.

Pada dasarnya Syi’ah sudah terbentuk dari awal kepemimpinan khalifah Abu Bakar namun pergerakannya tidak secara terang-terangan dan baru timbul secara terbuka saat kekhalifahan Ali bin Abi Thalib pasca terjadinya perang Siffin.

Didalam tubuh Syi’ah terdapat empat sekte, diantaranya adalah Itsna Asy’ariyah, Sab’iyah, Zaidiyah, dan Ghullat.

Syi’ah Asy’ariyah (Syi’ah dua belas/Syi'ah Imamiyah)


Syi’ah Asy’ariyah disebut juga Syiah Imamiyah karena dasar akidah mereka adalah mengenai persoalan imam dimana mereka menganggap bahwa yang berhak menjadi khalifah sebagai pengganti Nabi adalah Ali bin Abi Thalib, disamping karena ia memiliki akhlak yang mulia, dia juga ditunjuk nas dalam pewaris kepemimpinan Nabi.

Adapun penerima wasiat pasca Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husein bin Ali dan berturut-turut; Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far Ash-Shadiq, Musa Al-Kahzim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari dan terakhir Muhammad Al-Mahdi.

Konsepsi imamah Syi’ah Asy’ariyah, bahwa imamah adalah seperti kenabian dimana tugasnya adalah melanjutkan tugas nabi sebagai pemberi petunjuk pada umat manusia tentang hal-hal yang memberi kontribusi dalam kebahagiaan akhirat. Bagi mereka, Tuhan harus berlaku adil dengan manusia. Cara merealisasikan adil itu adalah dengan menetapkan imamah. Pada dasarnya manusia tidak akan pernah luput dari dosa, maka dengan adanya imamah maka manusia akan diadilkan dengan adanya pembimbing yang akan mengantarkan manusia ke arah kebahagiaan akhirat.

Sebagai tindak lanjut dari pemilihan imamah ini, Syi’ah Asy’ariyah mengharapkan seorang imam yang ma’shum atau terjaga dari kesalahan. Maksudnya adalah terpeliharanya dari dosa dan maksiat. Walaupun mampu untuk melaksanakan perbuatan tercela tapi tidak sampai terjerumus serta meninggalkan syariat Allah. Selain itu juga terdapat ajaran yang bernama taqiyah yaitu melakukan suatu perbuatan yang berlawanan dengan apa yang diyakininya demi menjaga keselamatan dan kehormatan diri, harta atau nyawanya.

Tentu saja hal ini hanya boleh dilakukan jika dalam keadaan terpaksa dan tidak akan menimbulkan kerusakan maupun fitnah. Dalam faham Syi’ah Asy’ariyah juga terdapat faham mahdiyah yaitu akan datangnya imam al-Mahdi untuk menegakkan keadilan serta menyelamatkan manusia dari kemungkaran.

Syi’ah Sab’iyah (Syi’ah Ismailiyah)


Seperti halnya Syi’ah Asy’ariyah, naman Syi’ah Sab’iyah di artikan dengan banyaknya imam yang dinisbatkan dalam kelompoknya. Terdapat tujuh imam yang telah diakui yaitu Ali, Hasan, Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, dan Ismail bin Ja’far. Menurut pendapat mereka, setelah Ja’far Ash-Shadiq (imam yang ke enam) maka imam itu tidak berpindah kepada putranya, Musa al Kazhim (seperti yang dikatakan Syi’ah Asy’ariyah) melainkan berpindah kepada anaknya yang lain yaitu Ismail bin Ja’far. Dari sinilah kelompok ini diberi nama Syi’ah Ismailiyah.

Doktrin imamah dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah bahwa imam adalah seseorang yang menuntun pada pengetahuan (ma’rifah) dan dengan pengetahuan tersebut maka orang muslim akan menjadi seorang mukmin yang sebenar-benarnya. Manusia tidak akan bisa menjalankan kehidupannya tanpa adanya bimbingan berdasarkan islam. Seseorang yang dapat memberi bimbingan tersebut adalah orang yang telah ditunjuk oleh Allah dan Rosul-Nya. Bahwasannya imam adalah penunjukan melalui wasiat yang berantai. Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang imam dalam pandangan Syiah Sab’iyah (Syi’ah Ismailiyah) adalah:

  1. Imam harus keturunan Ali bin Abi Thalib yang merupakan Ahl al-Bait karena menikah dengan Fatimah.
  2. Imam harus berdasarkan petunjuk. Mereka menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib  mendapat pununjukan dari Nabi sebelum wafat.
  3. Keimaman jatuh pada anak tertua. Ayahnya yang pada awalnya menjadi imam terdahulu kemudian menunjuk anaknya tertua sebagai penggantinya.
  4. Seorang imam harus terjaga dari salah dan dosa. Bahkan jika seorang imam itu terlanjur berbuat dosa maka perbuatan itu dianggap tidak salah.
  5. Imam harus seseorang yang terbaik. Posisinya hampir sama dengan dengan nabi baik sifat dan kekuasaannya. Namun bedanya bahwa nabi menerima wahyu tapi seorang imam tidak.
  6. Imam harus memiliki pengetahuan, baik ilmu lahir maupun ilmu bathin.
  7. Imam harus memiliki kemampuan untuk menuntun manusia kedalam jalan Tuhan yang lurus. Untuk itulah ia harus memiliki pemahaman tentang Islam secara total.

Syi’ah Zaidiyah

Disebut Zaidiyah karena mereka mengakui Zaid Ibn Ali Zainal Abidin sebagai imam kelima. Golongan ini berbeda dengan Syiah lain yang mengakui Muhammad al-Baqir Ibn Ali Zainal Abidin sebagai imam ke lima.

Doktrin imamah Syiah Zaidiyah yaitu bahwasannya kaum Zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi SAW telah ditentukan nama dan orangnya oleh nabi, tetapi hanya ditentukan sifat-sifatnya saja. Hal ini berbeda dengan sekte Syiah lain yang percaya bahwa nabi memilih Ali sebagai penggantinya karena memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki orang lain seperti wara, bertakwa, baik dan lain-lain.

Menurut Syi’ah Zaidiyah, imam yang baik harus memenuhi beberapa kriteria yaitu diantaranya:

  1. Merupakan keturunan ahl al-bait baik melalui garis Hasan maupun Husain. Hal ini dapat disimpulkan bahwa mereka menolak adanya sistem pewarisan dan nas kepemimpinan.
  2. Seorang imam harus cakap dalam mengangkat senjata agar dapat mempertahankan diri maupun menyerang
  3. Kecenderungan intelektualisme yang dibuktikan dengan ide dan karya dalam bidang keagamaan
  4. Mereka menolak kemaksuman imam. Dalam kaitan itulah mereka menganggap bahwa seseorang dapat dipilih menjadi imam walaupun bukan yang terbaik.

Ghulat

Sebenarnya kelompok ini tidak diakui oleh kelompok Syi’ah yang lain dan sekaligus dianggap kufur karena memiliki faham yang sangat ekstrem. Untuk itu dapat dikatakan bahwa Syi’ah Ghulat merupakan kelompok pendukung Ali yang memiliki sikap berlebih-lebihan atau ekstrem dimana mereka menganggap bahwa derajat Ali berada derajat ketuhanan, ada pula yang mengangkatnya pada derajat kenabian, bahkan ada yang menganggapnya lebih lebih tinggi dari itu.

Abdullah Ibn Saba’ adalah orang yang pertama kali mengembangkan Syi’ah Ghulat ini. Ketika Ali bin Abi Thalib meninggal karena dibunuh, Abdullah Ibn Saba’ menyatakan bahwa Ali bin Abi thalib tidak wafat melainkan naik keatas langit dan akan kembali untuk mengisi dunia dengan penuh keadilan.

Penyebab lain dari munculnya Syiah ini antara lain karena adanya mitos bahwa terdapat penyelamatan dunia pada masa pra Islam, dan juga karena adanya ajaran Al-Quran yang mengakui bahwa seseorang yang harus diikuti adalah imam. Lambat laun, Syiah Ghulat berkembang di negeri Irak dan memiliki doktrin yang ekstrem seperti diatas.

Konsep imamah kaum Syi’ah Ghulat terdapat empat kategori yang semuanya ternilai ekstrem.
  1. Tasubih, yaitu menyerupakan makhluk dengan tuhan atau menyerupakan tuhan dengan makhluk. Mereka menyamakan salah satu imamnya dengan tuhan.
  2. Bada’ yang merupakan keyakinan bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmu-Nya. Misalnya jika seorang imam menjanjikan kepada pengikutnya akan ada suatu kejadian, lalu terjadi seperti yang diucapkan, maka itu merupakan kebenaran ucapannya, tetapi jika terjadi sebaliknya maka ia mengatakan bahwa Tuhan menghendaki Bada’.
  3. Raj’ah dimana mereka mempercayai bahwa imam Al-Mahdi al-Muntadzar akan datang ke bumi.
  4. Tanashukh yaitu keluarnya ruh dari jasad dan mengambil tempat pada jasad yang lain.
  5. Hulul yang merupakan paham yang mengajarkan bahwa tuhan berada dalam semua tempat, berbicara dengan semua bahasa dan ada pada setiap individu manusia.
  6. Ghayba yang artinya bahwa imam mahdi itu ada tetapi tidak dapat dilihat oleh mata biasa.


Gerakan Qarmathiyah


Sebelum adanya Ubaidilah Al-Mahdi, semua pengikut Ismailiyah meyakini kemahdian Muhammad bin Ismail. Namun, setelah Ubaidilah Al-Mahdi menyebut dirinya sebagai Imam, dengan sendirinya ia telah menafikan kemahdian Muhammad bin Ismail. Pengangkatannya sebagai Imam ditentang keras oleh Hamdan Qarmath. Ia adalah salah satu penyeru (Da’i) kelompok Ismailiyah pada zaman itu.

Hamdan Qarmath tidak mengakui keimamahan Ubaidilah Al-Mahdi. Ia tetap percaya dengan keimamahan Muhammad bin Ismail sekaligus membentuk kelompok baru yang bernama Qaramathiah. Dari sinilah awal mula terbentuknya sub-aliran Shi’ah Isma’iliyyah yang bernama Qarmathiah.

Di sisi lain para penyeru kelompok Ismailiyah yang berada di Afrika Utara yang setia dengan Ubaidilah Al-Mahdi. Mereka memintanya ke sana untuk kemudian bersama-sama membentuk pemerintahan Fathimiyah. Ubaidilah Al-Mahdi dan pengikutnya menganggap Qaramithah merugikan Ismailiyah.

Kaum Qarmathiyyah melakukan terorisme dan kejahatan-kejahatan yang mengerikan sehingga membangkitkan kemarahan dan ketakutan. Mereka kemudian ditindas dan lama kelamaan hilang dari masyarakat. Namun propagandis-propagandis Isma’iliyyah untuk “keluarga Fathimah” telah memanfaatkan gerakan Qarmathiyyah ini, dan di atas puing-puing kehancurannya membangun dinasti Fathimiyyah di Afrika Utara dan Mesir.

Qaramithah tetap meyakini bahwa Muhammad bin Ismail adalah Imam ketujuh dan yang terakhir. Senantiasa mereka menanti munculnya Imam yang selama ini tersembunyi. Sikap ini membuat Qaramithah juga terkadang disebut Waqifiyah. Hal itu dikarenakan mereka terhenti pada kondisi ini. Terkadang juga mereka disebut Sab’iyah (Tujuh Imam). Ketujuh Imam mereka adalah; Ali selaku Imam dan Nabi, Hasan, Husein, Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhamamd dan Muhammad bin Ismail sebagai Mahdi.


Gerakan Hasyasyin


Dalam sejarahnya, Hasyasyin merupakan satu kelompok sempalan dari sekte Syiah Ismailiyyah. Dalam bukunya, Philip K. Hitti tidak menyebutkan kata Assassins, tetapi Hasyasyin. Gerakan ini merupakan gerakan sempalan dari ajaran Ismailiyyah yang berkembang pada dinasti Fathimiyyah, Mesir. Hassan Sabbah (w. 1124) adalah pendirinya dan para anggota Hasyasyin menyebut gerakan mereka sebagai da’wah jadidah (ajaran baru).

Menurut Hitti, Hassan Sabbah mengaku sebagai keturunan raja-raja Himyar di Arab Selatan. Menurutnya motif gerakan ini murni memuaskan ambisi pribadi, dan dari sisi keagamaan sebagai alat untuk balas dendam. Hassan Sabbah dilahirkan di kota Qumm, salah satu pusat perkampungan Arab di Persia dan benteng orang-orang Syi’ah Itsna Asyariyah. Ayahnya, seorang pengikut Syiah Itsna Asyariyah, datang dari Kufah, Iraq, dan dikatakan sebagai orang asli Yaman.

Ketika dia masih kecil, ayahnya pindah ke Rayy –kota modern di dekat Tehran, di sana Hasan mendapatkan pendidikan agamanya. Rayy merupakan pusat aktivitas para dai semenjak abad IX dan tak lama kemudian Hasan mulai terpengaruh oleh mereka.

Hasyasyin memiliki basis pertahanan di Alamut. Sebuah benteng yang dibangun di atas punggung bukit di puncak sebuah gunung batu yang tinggi pada jantung pegunungan Elburz. Istana tersebut dikatakan telah dibangun oleh salah seorang raja Daylam. Dia memberi nama istana tersebut Aluh Amut yang dalam bahasa orang-orang Daylam berarti ajaran burung Elang.

Alamut, sebagai benteng pertahanan yang dimiliki oleh Hasyasyin dipandang mempunyai peranan penting dalam melakukan serangan-serangan mendadak ke berbagai arah yang mengejutkan benteng-benteng pertahanan lawan. Organisasi rahasia mereka, yang didasarkan atas ajaran Ismailiyyah, mengembangkan agnostisisme yang bertujuan untuk mengantisipasi anggota baru dari kekangan ajaran, mengajari mereka konsep keberlebihan para nabi dan menganjurkan mereka agar tidak mempercayai apa pun serta bersikap berani untuk menghadapi apa pun.

Di bawah mahaguru ada tingkatan guru senior yang masing-masing bertanggung jawab atas setiap daerahnya. Di bawahnya, ada dai-dai biasa, sedangkan tingkatan yang paling rendah adalah para fida’i yang selalu siap sedia melaksanakan setiap perintah sang Mahaguru (syekh, the elder, orang tua).

Para penulis Ismailiyah melihat sekte ini sebagai penjaga misteri yang suci yang hanya bisa dicapai setelah melalui rangkaian panjang persiapan serta proses.  Istilah yang umum dipergunakan untuk organisasi sekte ini adalah da’wa  (dalam bahasa Persianya Da’vat), yang berarti missi atau ajaran; agen-agennya adalah para dai atau missionaris (secara literal berarti penyeru atau pengajak) yang merupakan suatu jabatan kependetaan melalui pengangkatan.

Dalam laporan-laporan Ismailiyah belakangan mereka dibagi keberbagai macam tingkatan  dai, guru, murid  (tingkatan  rendah atau tinggi), sedangkan di bawah mereka adalah mustajib (secara literal berarti simpatisan atau responden, yang merupakan murid yang paling rendah) tingkatan yang paling tinggi adalah hujjah (dalam bahasa Persianya Hujjat),  dai senior.

Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Memahami Pemikiran Radikal dalam Syi'ah, Qarmathiyyah dan Hasyasyin"