Follow me on Blogarama

main-nav-top (Do Not Edit Here!)

Sarekat Islam Semarang

Ada beberapa pendapat yang menyebutkan tanggal berdirinya Sarekat Dagang Islam adalah 10 September 1906, namun ada juga yang berpendapat tanggal 16 Oktober 1906. Moh. Hatta menyebutkan Sarekat Dagang Islam di Solo semula atas prakarsa R.M. Tirtoadisuryo sebagai cabang dari Sarekat Dagang Islam yang ada di Bogor, dan H. Samanhudi adalah ketuanya. Susanto Tirtoprojo menjelaskan bahwa Sarekat Dagang Islam berdiri tahun 1911 oleh H. Samanhudi di Solo. Deliar Noer dan Ahmad Syafi’I Ma’arif menyebutkan tahun yang sama yaitu tahun 1911 sebagai tahun berdirinya Sarekat Dagang Islam Solo.1  Berdirinya Sarekat Dagang Islam pun mendapat sambutan baik dari para pengusaha batik yang mengharapkan dapat membeli bahan batik lebih murah.

Sarekat Islam Semarang berdiri pada awal tahun 1913 oleh Raden Muhammad Joesoep seorang klerk di salah satu perusahaan trem bersama Raden Soedjono seorang sekretaris di kantor Kabupaten Kota Semarang (Oemar, 1994:151). Selang beberapa bulan setelah berdiri Sarekat Islam Semarang, pada tanggal 24 Maret 1913 terjadi perkelahian di kampung Brondongan. Aspek yang menjadi pemicu adalah kebencian seorang pedagang tahu dan nasi bernama Liem Mo Sing terhadap orangorang Sarekat Islam. Semula warung Liem Mo Sing tergolong laku, hampir sebagian besar buruh yang bekerja di perusahaan dekat warungnya menjadi pelanggan Liem Mo Sing. Setelah di kampung tersebut berdiri Sarekat Islam dan buruh perusahaan tersebut menjadi anggota, maka berdirilah toko dan koperasi. Liem Mo Sing merasa mempunyai saingan besar, sehingga ia menjadi benci kepada Sarekat Islam dan berusaha mengganggu orang-orang yang sedang sholat dan memaki-maki orang –orang Sarekat Islam (Kartodirdjo 1975:XII).

Akibat terjadi insiden di kampung Brondongan, posisi ketua yang dulunya dipegang oleh Raden Moh. Joesoep diambil alih oleh Raden Soedjono (seorang mantri Kabupaten) atas permintaan anggota Sarekat Islam Semarang (Soewarsono 2000:15). Pergantian pengurus baru tersebut terjadi pada tanggal 13 April 1913 di kampung Pendrikan di rumah Moh. Joesoep dengan susunan pengurus sebagai berikut: presiden dijabat oleh Mas Soedjono, wakil presiden oleh R. Moh. Joesoep, Sekretaris I dan II oleh Mas Poespo Hadikoesoemo dan R. Soemodirdjo. Bendahara I dan II adalah Mas Artosoedarmo dan Hadji Achwan. Komisaris oleh R.Prawito Koesoemo, R. Soepardi, R. Soefaham, R. Tjokrokoesoemo, R. Prawirosatro, Soerodibroto, Mas Resoatmodjo, Mas Darmawinata, Mas Kartowijoyo, Hadji Ridwan, Hadji Abdullah, Sajid Hoesin bin Hasan Moessawa, Hadji Oemar, Hadji Saleh (Yuliati 2000: 28-29).

Sampai saat kepengurusan terbentuk, Sarekat Islam Semarang belum mendapat pengakuan dari pemerintah. Baru pada tanggal 25 Juni 1915 pemerintah Hindia-Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg mengakui Sarekat Islam sebagai badan hukum (Yuliati 2000:31).

Sarekat Islam Semarang merupakan cabang dari Sarekat Islam Surakarta. Tujuan berdiri organisasi ini, yaitu:

  1. Memajukan perdagangan
  2. Memberi pertolongan pada anggota yang mengalami kesulitan
  3. Memajukan kepentingan jasmani dan rohani penduduk asli
  4. Memajukan agama Islam.

Sejak Sarekat Islam Semarang mendapat pengakuan sebagai badan hukum, para pengurus giat melakukan propaganda antara lain di Jomblang, Lemah Gempal, kampung Melayu, kampung Batik dan Genuk. Dalam propaganda tersebut para pengurus menerangkan bahwa Sarekat Islam Semarang bergerak sesuai dengan Anggaran Dasar yang telah disahkan. Walaupun saat itu Sarekat Islam Semarang sudah mempunyai sejumlah besar anggota, namun belum menampakkan kegiatan-kegiatan politik yang dianggap berarti oleh pemerintah kolonial.

Pada tahun 1914 dan 1915 sejumlah pegawai pemerintah Belanda mulai menjalankan tekanan-tekanan tidak resmi supaya pribumi yang menjadi pegawai –pemerintah tidak masuk Sarekat Islam, R. Soejono dan beberapa orang lagi sepeti dia tetap memegang jabatan di pemerintah dan keluar dari organisasi.

Share :

Facebook Twitter Google+
1 Komentar untuk "Sarekat Islam Semarang"