Follow me on Blogarama

main-nav-top (Do Not Edit Here!)

Kiprah Politik Masyumi di Indonesia

Dalam proses pembentukan Negara Indonesia, persoalan paling krusial adalah menyepakati Dasar Negara. Akan tetapi melacak isu tentang kapan istilah Negara Islam muncul dalam catatan sejarah Islam modern bukanlah selalu merupakan pekerjaan yang mudah.

Umat Islam Indonesia pada masa awal kemerdekaan cenderung menetapkan pilihan perjuangannya melalui saluran konstitusional dengan harapan bisa menang saat konstituante, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Perjalanan berharga dari tahun-tahun pertama kemerdekaan bangsa ialah, kenyataan lemahnya posisi kekuatan politik Islam dalam menentukan arah perjalanan Negara yang baru merdeka ini, meski selalu dikatakan bahwa umat Islam adalah mayoritas dari bangsa ini. Jika pada hari kedua proklamasi kemerdekaan, para pemimpin umat Islam merasa dikecewakan dengan pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, hari hari berikutnya mereka tambah kecewa lagi dengan sedikitnya tokoh-tokoh yang representativ mewakili mereka dalam posisi-posisi politik yang strategis, Badan Perwakilan, apalagi Pemerintah Daerah.

Namun kekecewaan itu tidak menjadi penghalang bagi tokoh-tokoh umat Islam untuk berjuang menegakkan kedaulatan Negara. Langkah politik pertama untuk mengkonsolidasi kekuatan ialah dengan menyelenggarakan Kongres Umat Islam Indonesia yang pertama setelah kemerdekaan pada awal bulan November 1945. Salah satu keputusan penting dari kongres ini adalah mendirikan satu-satunya partai politik umat Islam di Indonesia, dengan tetap mempertahankan nama “MASYUMI”, yang telah populer sebagai nama organisasi federasi sosial keagamaan Islam yang dibentuk di masa pendudukan Jepang pada bulan Oktober 1943. secara resmi partai ini dinamakan Partai Politik Islam Indonesia Masyumi. Masyumi hanyalah sekedar sebuah nama, bukan lagi singkatan Majelis Syuro Muslimin Indonesia seperti keadaannya di zaman pendudukan Jepang. Banyak orang yang salah faham mengenai nama Masyumi ini, tidak terkecuali para anggota Masyumi sendiri ketika partai ini masih ada.

Masyumi dibentuk dalam muktamar atau Kongres Islam Indonesia di gedung Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta pada tanggal 7-8 November 1945. Masyumi bertekad untuk memperjuangkan nasib politik umat Islam Indonesia.

Masyumi pada masa-masa awal kemerdekaan sepenuhnya didukung oleh organisasi-organisasi besar Islam yang ada saat itu, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Masyumi juga mendapat dukungan dari Partai Arab Indonesia yang didirikan oleh Abdurrachman Baswedan pada tahun1934, yang kemudian bergabung dengan Masyumi pada akhir 1945. Namun romantisme hubungan antar organisasi Islam itu pada beberapa tahun setelahnya mengalami beberapa ujian yang ternyata tidak dapat dilalui oleh Masyumi. Hal ini disebabkan antara lain karena dalam adanya perbedaan pendapat masing-masing tokoh-tokoh dari organisasi pendukung Masyumi, di sisi lain Masyumi juga semakin dikuasai oleh komunitas pembaharu yang diwakili oleh M. Natsir yang berasal dari Sumatera.

Bencana dimulai dengan keluarnya NU dari Masyumi sekitar 1950an, kekuatan politik Masyumi sedikit banyak berkurang, karena fakta menunjukkan bahwa setelah keluar dari Masyumi, NU memilih untuk menjadi partai politik sendiri. Dari sinilah dapat kita lihat bahwa kekuatan politik Islam telah terpecah. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa keduanya masih harus diperhitungkan oleh partai-partai pesaing seperti PNI dan PKI.

Ideologi Islam yang diperjuangkan oleh Masyumi akhirnya menemukan jalan buntu pada masa Demokrasi Terpimpin, tabrakan pemikiran antara Soekarno dan Natsir membawa dampak yang sangat fatal bagi perjalanan Masyumi di kancah perpolitikan Indonesia. Sebagaimana diketahui karena perbedaan pendapat di antara kedua tokoh tersebut, berdampak pada pembubaran Masyumi pada tahun 1960, meski bukan faktor ini saja yang menyebakan Masyumi bubar, namun perbedaan pendapat itulah yang menjadi penyebab utama.

Sebagai partai politik Islam pertama yang mengusung bermacam-macam aspirasi umatnya, tentu akan menarik untuk memahami lebih jauh bagaimana perjalanan partai politik Masyumi serta bagaimana perannya di dalam pemerintahan Indonesia saat itu, hingga pada akhirnya bubar pada tahun 1960.

Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Kiprah Politik Masyumi di Indonesia"