Follow me on Blogarama

main-nav-top (Do Not Edit Here!)

Uang dan Kebijakan Moneter pada masa awal Islam

Sigifikansi Perdagangan dan Alat Pertukaran


Sebelum islam hadir sebagai sebuah kekuatan politik, kondisi geografis daerah hijaz sangat strategis dan menguntunkan karena menjadi rute perdagangan antara Persia dan roma serta daerah jajahan keduanya. Di samping itu, selama berabad-abad wilayah selatan dan timur jazirah arab juga menjadi rute perdagangan antara roma dan india yang terkenal sebagai rute perdagangan selatan. Hal ini menimbulkan munculnya pedagang-pedagang musiman di sepanjang rute ini. Perdagangan merupakan dasar perekonomian di jazirah arab sebelum islam datang. Prasyarat untuk melakukan transaksi adalah alat pembayaran yang dapat dipercaya. Jazirah Arabia dan wilayah-wilayah tetangganya berada langsung dibawah kekuaasaan Persia dan Roma atau minimal berada dalam pengaruh keduanya. Mata uang yang dipergunakan Negara-negara tersebut adalah dirham dan dinar. Dengan kian kuatnya politik kedua Negara tersebut, alat pembayarannya pun makin dipercaya diwilayah kekuasaannya. Karena faktor itulah, bangsa Persia dan Romawi menjadi mitra dagang utama orang-orang Arab.

Koin dirham dan dinar mempunyai berat yang tetap dan memiliki kandunga emas yang tetap. Akan tetapi pada masa-masa selanjutnya beratnya berubah, kandungannya juga berbeda dari satu wilayah dengan wilayah yang lain. Secara alamiah transaksi yang berada di daerah kekaisaran Romawi menggunakan dinar sebagai alat tukar, sedangkan di kekaisaran Persia menggunakan dirham. Ekspansi Persia dan Romawi menyebabkan ini menyebabkan pertukaran uang meningkat. Bahkan pada masa Ali, dinar dan dirham merupakan satu-satunya mata uang yang dipergunakan. Dirham memiliki nilai yang tetap. Karena itu, tidak ada masalah dalam perputaran uang. Jika dirham di nilai sebagai satuan, maka dinar adalah perkalian dari dirham.

Selain menggunakan dinar dan dirham, alat pembayaran yang digunakan pada awal epriode Islam adalah kredit. Selain memiliki kelebihan dari dinar dan dirham sebagai alat pembayaran, kredit memiliki keuntungan lainnya. Misalnya untuk melakukan transaksi yang nilainya cukup tinggi tentu diperlukan koin-koin yang banyak untuk membayar, tentu tidak praktis. Metode lainnya yang digunakan dalam melakukan transaksi di Arabia adalah pembelian utang seseorang atau Obligasi.

Penawaran dan Permintaan Uang


Pada bagian ini akan dibicarakan tentang mata uang, dinar dan dirham. Yang merupakan satun moneter Persia dan Romawi. Pada masa Nabi kedua mata uang ini diimpor dari Persia dan Romawi. Karena tidak adanya tarif dan bea masuk, uang diimpor dalam jumlah besar, dimana nilai emas dan perak pada kepingan dinar dan dirham sama dengan nilai nominal uangnya. Karena itu keduanya dapat dibuat perhiasan atau ornamen. Dapat disimpulkan bahwa pada awal periode islam penawaran dan pendapatan uang sangat elastis.

Tinggi rendahnya permintaan uang tergantung pada frekuensi transaksi perdagangan dan jasa. Sementara itu situasi yang kurang kondusif antara kaum muslimin dengan suku Quraisy dan banyaknya peperangn yang dilakukan kaum muslimin menimbulkan pre-cautionary demand (permintaan uang untuk pencegahan) untuk berjaga-jaga terhadap keperluan yang tidak di duga. Akibatnya permintaan terhadap uang pada periode ini umumnya bersifat permintaan transaksi dan pencegahan.

Percepatan Sirkulasi Uang


Faktor lain yang memiliki pengaruh terhadap stabilitas nilai uang adalah pemercepatan peredaran uang. Dapat dipahami bahwa setelah HIjrah, secara bertahap pemercepatan peredaran uang cenderung meningkat. Keberhasikan kaum muslimin pada perang-perangnya menguatkan rasa percaya diri dan optimisme tentang masa depan yang lebih baik bagi kaum muslimin. Setelah perdamaian Hudaibiya, optimisme semakin meningkat. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa peningkatan volume aktifitas ekonomi mempercepat peredaran uang.

Pengaruh Kebijakan Fiskal terhadap Nilai Mata Uang


Perpindahan kaum mulimin dari Makkah ke Mdinah tidak dibekali dengan kekayaan ataupun simpanan dan juga keahlian, ini menciptakan keseimbangan ekonomi yang rendah. Sementara itu peperangan telah banyak menyerap jumlah tenaga kerja yang seharusnya dapat dipergunakan untuk pekerjaan yang produktif. Oleh karena itu masalah utama yang dihadapi Nabi jika dilihat dari sudut pandang fiskal adalah pengaturan pengeluaran untuk biaya perang yang rata-rata tiap dua bulan sekali, belum lagi penyediaan biaya hidup bagi setiap kaum muslimin turut menambah beban finansial. Dalam satu kesempatan nabi melakukan peminjaman setelah penaklukan Makkah. Kebijakan lain yang diambil nabi adalah memberikan kesempatan yang lebih besar kepada kaum muslimin dalam melakukan aktifitas produktif  dan ketenagakerjaan. Serta mendorong kerjasama antara Muhajirin dan Anshar.

Berkat kerjasama ini, volume perdagangan dan aktifitas pertanian Madinah meningkat, yang akhirnya meningkatkan penawaran agregat masyarakat. Peningkatan penawaran agregat membawa perekonomian dan stabilitas nilai uang kepada suatu tingkat keseimbangan yang lebih tinggi.

Mobilisasi dan Utilisasi Tabungan


Salah satu tujuan khusus perekonomian pada awal perkembangan Islam adalah penginvestasian tabungan yang dimiliki masyarakat. Hal ini diwujudkan dengan dua cara, yaitu : mengembangkan peluang investasi yang syar’I secara legal, dan mencegah kebocoran atau penggunaan tabungan untuk tujuan yang tidak islami. Pada awal keislaman, pemerintah dengan berbagai cara menyediakan fasilitas yang berorientasi investasi untuk masyarakat. Pertama, memberikan berbagai kemudahan bagi produsen untuk berproduksi. Kedua, memberikan keuntungan pajak terutama bagi unit produksi baru. Ketiga, meningkatkan efisiensi produksi sector swasta dan peran serta masyarakat dalam berinvestasi yang dilakukan dengan memperkenalkan teknik produksi dan keahlian baru kepada kaum muslim.

Praktik Bisnis Ilegal


Islam telah membuat kebijakan yang mendorong mengalirnya tabungan kearah investasi sekaligus mencegah terjadi penyimpangan penggunaan tabungan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan dan sia-sia dengan batasan-batasan yang ada. Beberapa batasan itu antara lain adalah : Kanz (penimbunan uang), Riba, Kali-bi-kali.

Instrumen Kebijakan Moneter


Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian diatas adalah bahwa tidak ada satupun instrumen kebijakan moneter yang digunakan saat ini diberlakukan pada awal periode keislaman. Instrument yang digunakan saat ini untuk mengatur jumlah uang beredar adalah dengan jual beli surat berharga (operasi pasar terbuka). Sudah jelas bahwa pasar terbuka tidak ada dalam sejarah perekonomian pada awal perkembangannya. Metode lain yang digunakan saat ini adalah menaikkan atau menurunkan tngkat bunga bank, praktek ini tidak dilakukan  pada masa awal Islam karena termasuk dalam kategori riba.

Peranan Harta Rampasan Perang Pada Awal Pemerintahan Islam


Di kalangan para orientalis, timbul asumsi yang menyatakan bahwa pada masa awal pemerintahan Islam, harta rampasan perang mempunyai peran yang sangat signifikan dalam menopang kehidupan kaum muslimin. Asumsi tersebut lahir dari fakta lemahnya kondisi ekonomi kaum muslimin pada masa-masa awal pendirian Negara Madinah. Kehidupan masyarakat Madinah yang secara ekonomi sangat memprihatinkan, menurut para orientalis, mendorong Nabi melakukan perampasan terhadap kafilah Makkah yang melewati Madinah menuju Syria. Berangkat dari asumsi ini, para orientalis berpendapat bahwa kebutuhan untuk meningkatkan sumber daya ekonomi dan keuangan telah menjadi factor pendorong bagi kaum muslimin untuk menyerang dan merampas kepemilikan orang Yahudi, Kristen, serta berbagai suku bangsa Arab lain yang berada di Utara dan Timur.

Sementara itu di kalangan muslim sendiri terdapat beberapa pendapatpandangan para sejarawan dan cendekiawan muslim ini merupakan hasil perpaduan antara rasa ingin tahu mereka dengan dugaan dan pendapat. Banyak sejarawan muslim yang tidak mengakui kepentingan ekonomi dari ekspedisi-ekspedisi itu.

Berbagai Ekspedisi yang Dilakukan Kaum Muslimin pada Masa Pemerintahan Rsulullah SAW


Ekspedisi tahun pertama yang dilakukan kaum muslimin sebanyak 74 kali, atau lebih dalam riwayat lain. Seluruh ekspedisi tersebut baik ghazwah maupun saraya bukanlah gerakan militer, tetapi hanya misi politik atau perjalanan dakwah. Ekspedisi tahun kedua adalah dimulai dengan peperangan melawan bani Qainuqa. Setelah melalui proses yang panjang orang-orang yahudi Qainuqa menyerah kepada kaum muslimin. Hasil dari peperangan ini terdiri dari persenjataan dan peralatan pertambangan emas, dan ada satu harta rampasan yang paling berharga yaitu sebuah benteng pemukiman bangsa yahudi dan sejumlah besar pasar yang merupakan salah satu pusat perdagangan di kota Madinah.

Ekspedisi tahun ketiga, terdapat tujuh kali ekspedisi yang dilakukan kaum muslimin pada tahun ini. Dari tujuh ekspedisi hanya tiga yang menghasilkan keuntungan ekonomis. Diantaranya adalah ghazwah Kudur, ini adalah perang pertama yang menghasilkan harta rampasan. Lalu saraya Zaid bin Harits yang dikirim ke Qaradah oleh Nabi untuk menghadang sebuah kafilah Makkah di jalur timur dan berhasil mengambil seluruh barang dagangannya. Namun hasil sebaliknya terjadi ketika perang Uhud, dalam perang ini awalnya kaum muslimin meraih kemenangan namun akhirnya mereka kalah.
Ekspedisi keempat, juga sebanyak tujuh kali ekspedisi, dua diantaranya menghasilkan harta rampasan perang. Ekspedisi tahun kelima adalah sebanyak lima kali dimana tiga diantaranya menghasilkan harta rampasan perang. Salah satu diantara perang yang berhasil itu dipimpin langsung oleh Nabi yang menuju mata air Muraisy untuk menyerang bani Musthaliq cabang dari Khuza’ah. Suku ini sedang merencanakan penyerangan ke Madinah yang mungkin di bantu oleh orang-orang Makkah. Setelah peristiwa ini Nabi menikahi Juwairiyah, putri Harits bin Abi Dhirar, kepala suku setempat. Ekspedisi tahun keenam, terdapat tiga ghazwah dan 18 saraya. Namun tidak ada satu ghazwah pun yang mendapatkan hasil materi, dan hanya 7 saraya yang berhasil mendapatkan keuntungan materi.

Ekspedisi ketujuh, dalam ekspedisi ini kaum muslimin melakukan 14 kali ekspedisi yang terdiri dari 6 ghazwahdan 8 saraya. Salah satu ghazawah terjadi bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji pada saat nabi ke Makkah. Sehingga tidak mendapatkan harta rampasan apapun pada saat itu. Namun sebagian besar ekspedisi pada tahun ini menghasilkan harta rampasan perang. Ekspedisi tahun kedelapan, pada tahun ini hanya enam ekspedisi yang menghasilkan harta rampasan perang. Ekspedisi tahun kesembilan, berhasil mendapatkan harta rampasan perang baik dalam jumlah kecil maupun besar. Ekspedisi tahun kesepuluh, pada tahun ini hanya terjadi satu kali ekspedisi, yaitu saraya Ali bin Abi Thalib ke Yaman yang berhasil memperoleh harta rampasan berupa hewan ternak, tawanan, baju, dan lain-lain.

Total Perkiraan Harta Rampasan Perang


Berdasarkan data tersebut, setidaknya gambaran tentang jumlah keseluruhan harta rampasan perang yang berhasil diperoleh kaum muslimin dalam kurun waktu 10 tahun masa kepemimpinan Nabi dapat diketahui. Untuk beberapa kasus tertentu, setengah dari kurun waktu perolehan harta rampasan tersebut berhasil memperoleh sejumlah kecil harta rampasan. Hal ini ditunjukkan melalui aktifitas perang selama melawan Yahudi di Madinah dan suku-suku lain di selatan.

Sekarang kita bisa tahu seberapa besar kontribusi harta rampasan perang untuk meningkatkan perekonomian kaum muslimin Madinah. Terdapat asumsi umum, kita telah melihat kenyataan bahwa harta rampasan perang yang besar akan memperkaya kaum muslimin, tetapi disisi lalin fakta-fakta juga menunjukkan agar kita mengecek kebenaran dari perhitungan tersebut. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah satu faktor dan pertimbangan penting yang seharusnya tetap kita tanamkan dalam pemikiran kita ketika menentukan ukuran pembagian harta rampasan perang dalam perekonomian Islam, yaitu bahwa sampai saat ini belum terdapat perhitungan yang cukup memadai dan komprehensif untuk masalah harta rampasan.

Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Uang dan Kebijakan Moneter pada masa awal Islam"